Rabalah dengan rasa, hati juga cinta
Ia akan menjadi mata
Bagimu mencari jawab dahaga tanya
Tentangku, mungkin juga tentang rindu
Karenanya aku menjelma buku
Yang tak akan pernah habis kau baca
Agar kita selalu dekat bersama
Rabalah dengan rasa, hati juga cinta
Ia akan menjadi mata
Bagimu mencari jawab dahaga tanya
Tentangku, mungkin juga tentang rindu
Karenanya aku menjelma buku
Yang tak akan pernah habis kau baca
Agar kita selalu dekat bersama
Dalam rangka menyambut hardiknas, hari ini saya tulis 2 status di pesbuk :
“hai, apa kabarmu penerus2 Ki Hajar Dewantara”
“perguruan taman siswa didirikan dgn tujuan memberi kesempatan para pribumi rakyat jelata untuk memperoleh hak pendidikan yg sama dg priyayi dan belanda. (dan rakyat jelata di era kemerdekaan ini masih memandang pendidikan ‘bermutu’ sbg bentuk kemewahan yg mahal harganya)”
Usai nulis status yang kedua, kok saya jadi mikir, kalo kenyataannya untuk mengenyam bangku sekolah yang “agak bermutu” di negeri ini sedemikian mahal harganya, apa iya kita sebagai rakyat jelata akan diam-diam saja terus memilih untuk sama sekali tidak belajar? Read the rest of this entry »
Ini tentang kegemaran saya yang suka keluyuran. Sering saya mendengar kalimat “kamu enak, masih sendiri bisa jalan kemana aja”, ditujukan pada saya yang sedang berasyik masyuk dengan mbah gugel merencanakan sebuah agenda perjalanan, atau pada saat saya lagi asoy geboy mamerin foto-foto hasil pengeluyuran. Begitulah, bahwa kesendirian itu adalah sebuah kondisi yang sedemikian membahagiakan .
Tapi baru hari ini saya dengar, “jaman saya masih sendiri dulu, saya ga sempat jalan-jalan”. Terus terang saya takjub! ga sempat, kok ga sempat jalan-jalan? Alasannya apa? Sibuk kerja? Kata “sempat”, itu pasti akan berhubungan dengan kata “waktu”. Sempat itu berarti “ada waktu buat melakukan”, ga sempat berarti ga ada waktu. Terus apakah untuk sempat itu tinggal nunggu aja, tau-tau ada waktu buat nganggur gitu? terus jalan-jalan. Yang benar sajah? Read the rest of this entry »
Sore tadi waktu pulang kantor, sambil nunggu pesanan siomay, saya kok tiba-tiba teringat kejadian di kantor pertama saya dulu, kejadian yang dulu bikin saya berang namun suka bikin geli-geli sendiri kalo ingat.
Waktu itu, saya masih seorang anak bawang di kantor saya, anak baru yang tidak terlalu baru juga sebenernya, lulusan almamater yang terakhir ditempatkan, jadi boleh dibilang anak masih bau kencur diantara para senior yang sudah bahu jahe.
Kejadiannya bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, dan jaman segitu semua hari besar diperingati dengan upacara bendera. Read the rest of this entry »
Usai long weekend gini, saya suka berandai-andai: “sekiranya saya bukan seorang pegawe kantoran yang bisa mengatur jadwal libur sesuka hati, saya akan……..”
Kalimat setelah kata “akan” itu, akan banyak jenisnya ..sebagian besar tentang jalan-jalan , traveling, backpacking, ngluyur etc etc
Jadi terdengar seperti tidak bersyukur ya?
Btw, kata orang jadi pegawe kantoran itu enak, hidupnya terjamin, rejeki alhamdulillah tertib diterima setiap bulannya. Ya memang, menurut saya juga begitu, dan semoga saya bisa selalu bersyukur karenanya. Tapi begitu kebentur pada kata “waktu” alias keterbatasan waktu alias kebebasan terbelenggu, terkadang saya juga suka ngenes sendiri. Secara saya demen keluyuran, tapi ga bisa semau-mau gue buat ngluyur
. Tapi ya sutralah, itu sudah konsekuensi dari pilihan hidup saya, yang memilih jadi pegawe..negeri pula
.
Alhamdulillahnya, justru kondisi tersebut sering membuat saya merenung dan garuk-garuk kepala ketawa-ketawa sendiri. Saya jadi suka ngitung-ngitung waktu, sehari saya kerja berangkat pagi pukul enam lebih seperempat, pulang sampai di rumah pukul enam kurang seperempat sore. Kalo di rata-rata 10 jam dalam sehari waktu hidup saya ada di kantor. Sisanya 14 jam di rumah, 6-7 jam buat tidur, jadi kalo dipikir-pikir waktu melek saya dalam sehari lebih banyak saya habiskan di kantor ketimbang di rumah. Read the rest of this entry »
Sore tadi, saya agak-agak bersitegang dengan si cute dan si dhe (selanjutnya kita sebut duo kucrut
). Bukan yang bersitegang mo berantem gitu sih. Cuma sedikit ngotot dan nada tinggi
(maap ya crut).
Jadi ceritanya, kita bertiga telah dinobatkan secara sepihak menjadi tim kreatif untuk bikin performance di acara pekan panutan penyampaian SPT Tahunan. Seperti biasa, program ini program dadakan (program untuk perform maksudnya), dengan susunan acaranya tidak begitu jelas. Sudah diseting ide acara buat malam, eh taunya jadwal berubah jadi siang. Akhirnya setelah mengalami pergulatan emosi dan gejolak jiwa yang panjang, atas idenya si cute, kita sepakat buat bikin mini operet. Read the rest of this entry »
Tawa kita adalah gelak-gelak sekumpulan anak. Yang tengah gembira meniup gelembung-gelembung udara. Meski sepenuhnya kita mengerti , bahwa gelembung yang terbang, sesaat saja ia melayang, selanjutnya pecah dan hilang. Menyisa riang yang seketika lengang.
Racau kita adalah kicau-kicau burung gereja. Yang hinggap sesaat untuk berbagi cerita. Celoteh tanpa makna, yang anehnya tak jua membuat kita henti bicara. Meski sepenuhnya kita pahami, bahwa burung gereja tak boleh hinggap selamanya. Sesaat saja ia bercengkerama, selanjutnya harus terbang entah kemana. Menyayup riuh yang perlahan menjauh.
Maka hati adalah tanda tanya. Ketika rasa tak terjemahkan bahasa. Tentang cinta, tentang rasa kehilangan. Sama-sama menyesakkan, sama-sama tanpa permisi singgah ke bulu-bulu mata. Tanpa tau hendak bersembunyi di mana.