Kau tahu ?
Musim lebaran bagiku tak ubahnya makam, ketika kenangan begitu mudah tergali dari pendam.
Tentang masa kecil kita, tentang lebaran hari itu.
Tentang kembang api yang menyala terang, dan kita menari bersama perciknya yang indah terlihat dari sela pagar rumah seberang.
Tentang baju baru yang tak jua selesai dijahit ibu, meski takbir telah menggema syahdu.
Semalaman ibu bergadang…
Dan keesokan harinya , kita terbangun dalam perasaan riang tak terkatakan. Mendapati baju itu sudah tergantung di tiang ranjang. Ranjang satu-satunya tempat kita berdesakan tidur dalam lelap yang panjang. Hangat yang teramat nyaman.
Lalu semangkuk opor ayam datang dari rumah nenek. Lengkap dengan ketupatnya. Tak cukup banyak, namun yang terenak. Paling enak sedunia aku rasa. Atau barangkali karena perut kita yang sedang gembira, sebab kerinduannya pada sang ayam terobati setelah satu tahun berganti? Tapi aku rasa, opor ayam buatan nenek memang tak tertandingi.
Kau tahu ?
Tak ada yang lebih bahagia dari hari itu. Meski waktu perlahan-lahan menampar kesadaran seiring usia kita yang semakin beranjak dewasa. Bahwa sesungguhnya betapa menyedihkannya keadaan kita ketika itu. Namun tetap saja, tak ada yang lebih bahagia dari hari itu.
Sebab sejak hari itu,
tak ada lagi nyala kembang api yang terangnya lebih indah dari kembang api di sela pagar rumah seberang. Tak ada lagi baju yang lebih hebat dari baju jahitan ibu. Tak ada lagi makanan yang lebih enak dari opor ayam buatan nenek.
Meski hari ini, kita mampu mendapatkan berbatang-batang kembang api dan berlembar-lembar baju ganti yang kita ingini. Meski setiap hari kita dapat mencicipi masakan dari restoran-restoran yang ingin kita datangi. Opor ayam buatan nenek tetap tak tertandingi.
Kau tahu?
Tak kutemukan lagi lebaran yang lebih syahdu dari lebaran hari itu. Hari ketika kita dapat tertawa penuh bahagia, dalam kesengsaraan yang tidak terasa.