selintas kau,
ada yang menggelenyar di sudut hati
mengembang sekaligus hilang
menyisa embun di bulu-bulu mata
mengerjapku,
seketika kau kunang-kunang
berkerlip sesaat lalu menghilang
melangutkanku menjelma lamun
yang hinggap di benakmu
menghantuimu tak berkesudahan.
(hingga kau kembali datang, tak lagi kunang-kunang, melainkan benderang)
Advertisement