telah kutitipkan kelu pada waktu, agar ia terlupa dalam lalu
dan tiba-tiba saja hujan sudah kembali datang.
meriyap, mengalun ricik serupa hymne kehilangan…
persis seperti waktu itu,
ketika hujan bahkan tak sanggup meluruhkan air mata yang mendadak beku,
ingin sedu namun kelu…
ingin melepas sekaligus tak ingin ia hilang
menyekat, seperti dahaga di keringnya padang gersang
meski hari itu hujan… meski hari itu beranjak malam.
seperti baru kemarin,
waktu yang lesat, perlahan mengurai rasa kehilangan
namun hujan hari itu seperti mengekalkan kenangan
yang selalu menghadirkan embun di bulu-bulu mata,
ketika ia kembali datang.
(satu tahun sudah sejak kau pulang… dan kau masih akan selalu ada di ingatan)
Advertisement