Suatu hari nanti, ketika aku tak dapat lagi menyebutmu sebagai rumah, barangkali itulah saat bagiku untuk menetas dan keluar dari cangkang kenangan. Cangkang tempat aku bertumbuh, meniti hitungan-hitungan masa menuju dewasa. Cangkang yang pada dindingnya tergores jejak kisah sedih dan bahagia. Pada akhirnya, tak lebih hanyalah sebuah wadah, tempat kenangan teremami sempurna, untuk kemudian menetas berani menghadapi dunia.
Suatu hari nanti, ketika aku tak dapat lagi menyebutmu sebagai rumah, barangkali sudah saatnya bagiku untuk berkemas dan membiarkan waktu perlahan-lahan menghapus jejak-jejak sejarah. Sebab ia tak lebih dari sebuah ruang yang meruntuh…bukan kenangan itu sendiri. Bahkan kenangan tidak pernah membutuhkan kata “pulang”. Sebab ia akan selalu turut dalam kisah pendewasaan diri.