Akhir-akhir ini kantor saya lagi demen bikin acara. Diawali dari acara Launching SPN, lalu acara Penganugerahan Pegawai Terbaik, lanjut acara Family Gathering di akhir tahun 2011 dan yang terakhir ini, baru beberapa minggu yang lalu, diadakan acara syukuran karena target penerimaan (alhamdulillah) tercapai dengan lancar jaya.
Acara-acara yang sederhana sebenarnya, namun nampaknya cukup membuat kami semakin kompak, dan cukup membuat saya mendapat pencerahan untuk menulis kembali
.
Jika ada satu hal yang boleh dan sebenarnya acap ingin saya protes di kantor saya ini, adalah kenapa setiap acara selalu dijadwalkan mendadak tanpa persiapan matang?
Acara Launching SPN, saya dan teman-teman dibikin pontang-panting membentuk grup paduan suara dadakan hanya dalam jangka waktu 3 hari, untuk membawakan beberapa lagu yang meski dipecah-pecah suara namun harus padu juga.
Acara Penganugerahan Pegawai Terbaik, giliran teman saya yang lain terbirit-birit bikin narasi biografi singkat para pegawai yang terpilih.
Acara Family Gathering, mulanya hanya diawali dari sebuah obrolan di jumat pagi seusai senam, sebuah cita-cita mulia untuk mengakhiri tahun 2o11 dalam suasana ceria bersama. Terlontarlah ide-ide liar, yang berujung pada sebuah kondisi terburu-buru menyiapkan acara, karena nekad menunjuk diri sendiri sebagai panitia sekaligus musti berlatih menyiapkan penampilan terbaik atas nama seksi.
Dan yang terdahsyat, adalah acara yang saya sebut terakhir, yaitu acara syukuran penerimaan, sebagai buah ide dari Ibu Kepala Kantor kami, yang sepertinya begitu bersemangat untuk menghargai hasil kinerja anak-anaknya. Lantas berterbanganlah ide-ide gila dari kami yang didaulat bulat menjadi tim kreatif. Karena sudah dinamakan tim kreatif, maka mestinya kami harus kreatif, bikin acara yang sebelumnya tidak pernah dibikin, biar jadi kejutan. Acara yg harus ekstravagansa, dan sialnya harus siap dalam waktu kurang dari seminggu. Akibatnya, dimulailah kerja lembur ala romusha bagi saya ,menyiapkan skenario sebuah opera sabun sekaligus berburu sound effect yang sesuai. Diikuti teman-teman saya, yang terpaksa sukarela mengkerjarodikan diri sendiri sesuai tugas masing-masing, membuat narasi per babak, menyiapkan properti, berlatih akting dan koreo, berlatih menyanyi, mengatur dekorasi dan layout panggung, hingga mencari gambar-gambar latar yang sesuai.
Hal yang membuat saya heran, biar waktunya dibikin mepet-mepet hingga kadang membuat kami mengumpat kampret, kok ya segala fase keterburuan itu dapat terlampaui dengan hasil yang gemilang (aplaus buat kami!!!).
Terlibat dalam persiapan acara-acara tersebut, sesungguhnya hal yang sangat menyenangkan bagi saya pribadi. Euforia, rasa kebersamaan, kekompakan saling bahu membahu dengan teman, sungguh suatu hal yang begitu menghangatkan hati.
Saya masih ingat bagaimana rasanya, ketika harus lembur semalaman menyusun skenario, itulah waktu dimana saya begitu dapat merasakan nikmat berkarya dengan hati gembira, ketika benak yang meluap-luap begitu kegirangan ingin menumpahkan segala macam ide yang menggila (okey…ini terdengarnya memang lebay, namun seperti itulah yang saya rasakan).
Barangkali perasaan itu pula yang dirasakan teman-teman saya, ketika masing-masing berkarya dengan hati. Berkarya bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk kesenangan diri sendiri. Mengabaikan hasut iri dan dengki, bahwa diujung keberhasilan, mungkin akan terjadi ketimpangan rasa atas sebuah pengakuan karya.
Sebuah kelaziman bahwa dunia panggung tidak mengenal apresiasi bagi manusia-manusia yang berperan di belakang layar. Dalam sebuah film, yang acap diingat penonton adalah sang aktor bukan sutradara, bukan penulis skenario, bukan kameramen apalagi penata busana. Yang kerap dielu-elukan penggemar dari sebuah band, adalah sang vokalis, bukan pencipta lagu, bukan musisi pendukungnya.
Namun, dunia panggung pun bukan merupakan ajang untuk saling merasa hebat, bukan ajang untuk menonjolkan diri sendiri. Karena sehebat apapun sebuah cerita, tak akan pernah menjadi hebat tanpa pemain yang bisa memerankannya. Sehebat apapun cerita dan pemainnya, tak akan pernah menjadi sebuah film tanpa seorang kameramen dan kru pendukungnya.
Berkarya dengan hati, mewujudkan penampilan yang terbaik. Mungkin itulah yang membuat kami selalu mampu meski diburu waktu. Berkarya bersama, entah nantinya siapa yang akan mendapat apresiasi , bukan menjadi hal yang penting. Karena rasa gembira, senang dan bahagia, kenikmatan yang muncul ketika berhasil melakukannya , adalah apresiasi yang tertinggi di atas apresiasi siapapun.