Aku memang tidak pernah mengerti, seperti apa rasanya sunyi menjadi pucuk daun di puncak pepohonan. Berteman desau-desau angin pembawa kabar, mendengar bisik-bisik suara samar. Hanya mendengar. Sebab tutur, entah mengapa selalu teredam menjadi tawar.
Aku memang tidak pernah mengerti, seperti apa rasanya sepi menjadi awan yang menjelma hujan. Mencurah rindu pada tempat titik air berasal, menderas namun ditinggalkan.
Aku tidak pernah mengerti, sepertiĀ akar yang tidak memahami bagaimana tampak bumi dari ketinggian.
Aku tidak pernah mengerti, seperti hangat yang tidak memahami mengapa hujan hanya terlihat indah dari balik kaca jendela.
Namun ada satu hal yang aku mengerti, bahwa hujan dan pucuk pepohonan tidak pernah tidak berarti bagi bumi. Bahwa akar rerumputan bertunas bukan dibawah terik matahari, melainkan pada teduh rindang pepohonan yang menaungi. Bahwa akar rerumputan hanya bertumbuh ketika deras hujan luruh.
Aku hanya mengerti, bahwa tanpa hujan tanpa pepohonan, bumi ini sunyi…bumi ini mati.