Tadi pagi, waktu mengikuti prosesi acara penyerahan SPT Tahunan secara serentak itu, tepatnya saat mendengarkan sambutan dari kepala kantor, ada yang membuat emosi saya jadi termehek-mehek ga jelas.
Bukan, bukan karena isi sambutan kakap yang mengharu biru, melainkan ketika kakap saya menyampaikan pidato, posisi saya yang tepat menghadap pintu melihat pemandangan beberapa orang-orang tua yang saya duga adalah wajib pajak pensiunan, datang untuk melaporkan SPT nya.
Satu diantara mereka, yang membuat saya nyaris mewek, adalah kedatangan 2 orang bapak tua yang salah seorang diantaranya seperti mengalami gangguan penglihatan terlihat dari cara berjalannya yang sedikit meraba-raba.
Saya sudah was-was ketika bapak tersebut mendekati anak tangga menuju pintu depan, takut beliaunya jatuh tersandung. Namun syukurlah bapak yang satunya lagi tanggap dan segera menggandeng beliaunya.
Tiba-tiba pelupuk mata saya terasa panas dan tenggorokan saya seperti tersekat, terlebih ketika melihat tangan bapak itu meraba-raba mencari pegangan. Trenyuh, terharu dan sedih . Ah, Bapak ini mengingatkan saya pada salah seorang yang masuk dalam daftar orang-orang tercinta di hidup saya, yang tak pernah berhenti berjuang hingga dia berpulang.
Terharu, karena dengan segala keterbatasannya beliau masih menyempatkan diri untuk datang menyampaikan SPT Tahunannya. Ironis,jika mengingat saya sering diprotes WP PNS yang masih aktif, karena merasa terbebani dengan adanya kewajiban menyampaikan SPT Tahunan.
Entah sudah berapa kali saya menjadi tempat curahan hati para pensiunan ini pada saat saya sedang terkena piket di ruang konsultasi. Bukan curahan hati karena terbebani harus lapor SPT, mereka hanya bercerita tentang jaman-jaman kejayaan ketika masih aktif jadi PNS. Sebentuk kenangan yang membanggakan bagi mereka, mengharukan bagi saya yang mendengarnya.
Pikiran saya jadi mengembara, suatu saat nanti jika diijinkan Tuhan, sayapun akan menjadi tua seperti para pensiunan tersebut, bisa jadi kesehatan saya tidak sebagus hari ini, seperti yang dialami bapak tadi. Bagaimana rasanya menjadi tua? Seperti apakah rasanya ketika sudah pensiun dan hanya bisa mengenang? Bagaimana rasanya “merasa tidak lagi berguna”?
Saya teringat ibu saya di rumah, yang meski sudah kami larang-larang agar beristirahat saja dan jangan mengerjakan lagi pekerjaan rumah, namun beliau bergeming dalam perngeyelannya yang abadi
.
Pernah suatu ketika saya berpikir tentang sebab perngeyelan ibu saya tersebut. Dengan pertanyaan sederhana, seperti apa rasanya menjadi tua? Dari sana saya jadi menyadari, pasti ibu saya yang memang dari jaman dulu tidak pernah bisa diam ingin tetap dibutuhkan dan tidak mau menjadi tidak berguna meski menua.
Karenanya saya menduga, demikian juga barangkali perasaan para pensiunan itu, dari wajah-wajah sumringah beliau-beliau ini, pada saat melaporkan SPT, barangkali terselip sebuah kebanggaan bahwa di masa tua mereka , mereka masih dibutuhkan dan berguna untuk bangsa ini. Salut!
Mantaaf…..make me so sad….ihiks ihiks….
jadi pingin kembali temanggung lagi membantu kasi penagihan biar ga perlu ndobel mejees eksten lg *ngarep.com
Siip…….luar biasa ……
mas billy, pas mas billy balik kami dah ga di tmg kali ya *menerawang, ingat msk dlm daftar 4 tahunan* :’(
eny, makasih…moga2 tetep bisa berguna sampe kita pensiun nanti ya
hentul… it’s always awesome!! i mean for what you’d wrote… for how you’d think.. it’s just said that inside you, your heart.. is just AWESOME!! *semangatsampaikitamenua,ya….*
@cute :
bilang AWESOME nya biasa aja kali ya bu….nyemprot, hahaha..
tetap semangat jalan2 sampe tuwek ya cyin, biarpun ngesot !!!!!
agree with the previous comment, you’re always HANDSOME !!
qutub: makasih ya cyiiinn… *mata berkaca2..haru*