Rabalah dengan rasa, hati juga cinta Ia akan menjadi mata Bagimu mencari jawab dahaga tanya Tentangku, mungkin juga tentang rindu Karenanya aku menjelma buku Yang tak akan pernah habis kau baca Agar kita selalu dekat bersama
Archive for the ‘larik kata’ Category
maka malam yang melarut adalah titian gelisah, ketika siang yang sedemikian berjarak, antara dinginmu dan inginku, desau udara menghantar aroma tubuhmu. sesaji wangi surgawi, meresah rindu sepagian kian menggebu. rindu yang gebu, biru yang seketika kelabu kala lambai punggungmu menghilang di keriuhan, tergugu gapai sentuhku di kehampaan.
Jika benar hidup adalah panggung sandiwara, Maka “waktu” akan menjadi gulungan pita magnetis penyimpan episode-episode kehidupan. Hari ini, kita adalah bintang-bintang kehidupan yang tengah melakonkan episode gembira Merekam potongan-potongan gambar berisi tawa dan tawa, tangis yang bahagia Jika esok semua tak lagi sama, setidaknya waktu telah menyimpan episode hari ini, hingga kelak kita [...]
ketika biru memudar kelabu, puisiku kelu, membisu merindui rindu. : ketika sunyi tak lagi lantun tuturmu… ketika malam tak lagi rupa rautmu… seketika kosong, perlahan membeku.
telah kutitipkan kelu pada waktu, agar ia terlupa dalam lalu dan tiba-tiba saja hujan sudah kembali datang. meriyap, mengalun ricik serupa hymne kehilangan… persis seperti waktu itu, ketika hujan bahkan tak sanggup meluruhkan air mata yang mendadak beku, ingin sedu namun kelu… ingin melepas sekaligus tak ingin ia hilang