Sunset Policy = kalo tidak sunset dilaporkan polisi
Suka heran karena akhir-akhir ini banyak WePe telpon atau datang nyari saya, meski setelah ditanya dari mana asal usul mereka..ternyata bukan masuk ke wilayah kekuasaan saya. Tadinya saya pikir.. telah terjadi kesalahan pencantuman nama AR dalam surat-surat bernafas sosialisasi itu, yang barangkali yang tercantum sebagian besar melulu AR-nya saya. Sebuah kemisteriusan yang menjengkelkan.. karena konsentrasi kerja saya jadi sedikit terganggu.
Tapi akhirnya misteri itu sedikit demi sedikit terkuak, dalam ketidak sengajaan..
Suatu ketika , ada WePe yang perangkat desa itu datang kepada saya.. tepatnya langsung mencari nama saya di pos satpam..setelah ngobrol ngalor ngidul.. pada akhirnya dia menunjukkan sebuah surat rekomendasi dari kecamatan, yang mana didalam surat itu menyebutkan agar si penerima surat menemui AR yang bernama XXX..dan XXX itu saya. Surat dari camat ditujukan kepada seluruh kepala desa dalam lingkungan kecamatan YYY. Pantessss…akhir2 ini saya mendadak tenar ditelpon..dicari-cari para aparat desa yang minta petunjuk (keluh)
Hari ini..satu misteri lagi terkuak… ketika masih sibuk ngurusin WePe saya yang pengen tanya jawab soal SKF, pak satpam bilang bahwa di luar sudah ada yang ngantri dari desa ZZZ ..saya bilang ..itu bukan wilayah saya..tapi pak satpam keukeuh, WePe nya bilang nyari mbak kok…hayah…
Selesai dengan WePe yang pertama (halah …kok kesannya jadi sedikit mesum ..hihihi)..masuklah sepasang suami istri..mau konsultasi soal sunset..saya bilang ke pasangan tersebut, bahwa kiranya mereka salah alamat mencari saya, saya bukan AR mereka..ketika saya katakan agar mereka bersedia menunggu sebentar untuk saya panggilkan AR yang sejati.. mereka bilang, cuma mo konsultasi sebentar kok Bu (aaah…saya harus mulai terbiasa bersabar dipanggil Ibu)..ayayayaya…ngobrol ngalor ngidul.. akhirnya saya bilang..lain kali kalo mau konsultasi langsung sama AR nya saja yaitu Mbak QQQ, tapi mereka bilang.. Kemaren kita ngobrol sama teman-teman sesama WePe, terus katanya kalo mau konsultasi soal sunset langsung ketemu Bu XXX saja…dan Bu XXX itu adalah saya!!! AAARRRRGGGHHHHH….!!!!! pantas saja …saya mendadak tenar.
Saya pikir ini pasti gara-gara , saya pernah menjadi pembicara untuk acara sosialisasi sunset kemaren dulu… nasib..nasib…
Tapi ada sedikit yang menggelikan yang diungkapkan pasangan yang ketemu saya tadi.. ketika saya jelaskan bahwa untuk pembetulan harta saja, tidak termasuk dalam kategori pembetulan sunset.. dan mereka bilang, ga papa bu..yang penting saya laporkan.. katanya kalo saya tidak ikut sunset, dan harta yang saya miliki tidak diungkap seluruhnya di SPT, saya bisa dilaporkan ke polisi …dan saya mendadak menderita komplikasi antara kepengen ngakak sambil merasa saya telah gagal menjadi seorang pembicara
Aaaah…lagi-lagi hanya pembetulan harta, kapan ya kurang bayarnya?
sunpol vs skp
masih tentang sunset policy…
kalo ga salah di PMK nya..disebutkan pembetulan sunpol dapat dilakukan sepanjang atas SPT Tahunan tahun pajak yang bersangkutan belum diterbitkan skp.
maka muncullah salah satu kasus yang membingungkan teman saya:
telah dilakukan pemeriksaan terhadap WePe dan telah diterbitkan skp untuk tahun pajak xxxx. sehubungan dengan adanya sunpol..WePe bermaksud melakukan pembetulan untuk tahun pajak xxxx tersebut, karena WePe merasa bahwa terdapat penghasilan yang belum diperhitungkan oleh pemeriksa. alias. pembetulan yang dilakukan WePe akan mengakibatkan jumlah kurang bayar yang lebih besar dari pada temuan pemeriksa.
yang menjadi masalah…terbentur oleh aturan PMK tsb diatas..maka pembetulan WePe akan tidak memenuhi syarat sebagai pembetulan sunpol yang otomatis akan tetap dikenakan sanksi. Sungguh sayang , dengan adanya benturan tersebut, maka WePe tidak jadi mengungkap jumlah kurang bayar yang sebenarnya, lantas melayang sudah potensi penerimaan negara.
sunpol vs sistem
ini tentang pelaksanaan sunset policy..
kalo ga salah di PMK-nya… pembetulan sunset policy bisa dilakukan untuk SPT Kurang Bayar yang terkait dengan PPh Pasal 29, PPh Pasal 4 ayat (2) dan PPh Pasal 15
kesulitannya… ternyata untuk mengentry di sistem kompie-nya, sepanjang pembetulan tidak menyebabkan jumlah kurang bayar PPh Pasal 29, maka akan dibaca sistem sebagai pembetulan biasa alias bukan sunpol.
masalahnya..ada beberapa WePe yang bermaksud untuk membetulkan PPh Pasal 4 ayat(2) yang kurang/memang belum dibayar… jd repot kan???!!!
Tidak hanya AR yang bisa keren!
Di kantor saya, Menjadi seorang Account Representative (AR) sering dipandang keren. Bahkan ada beberapa teman yang bilang kalo para AR seperti mengekslusifkan diri. Bahkan ada beberapa teman yang menyesal kenapa tidak terpilih menduduki jabatan AR, dan ada yang bercita-cita dapat menjadi AR kelak.
Saya sendiri sebagai seorang AR.. tidak pernah merasa keren bahkan sempat bertanya-tanya..keren-nya itu dimana? apa karena tunjangannya yang lebih besar sekian ratus ribu (ga sampe juta) itu? atau karena jabatannya, yang memang jadi kelihatan most wanted dan tenar diantara WePe2 ? atau karena pekerjaannya, yang memaksa AR jadi kelihatan demikian sibuknya sehingga kelihatan penting?
mari kita urai satu persatu secara realitasnya..
Sebagai seorang AR.. saya memang mendapat tunjangan khusus dalam setiap bulannya… kalo boleh dihitung.. untuk grade yang sama, antara seorang AR dan seorang Pelaksana akan menimbulkan perbedaan penghasilan tidak sampe satu juta. lantas… mari kita bandingkan..ketika grade AR lebih kecil satu tingkat ketimbang pelaksana, maka perbedaan penghasilan akan semakin mengecil.. atau ketika grade AR masih di range bawah 9 ..dan grade pelaksana di range 9 ke atas..jangan lagi ditanya..pasti take home pay AR akan lebih sedikit sekali dibanding take home pay pelaksana ..realitas berikutnya…untuk penilaian grade AR, dibuat penilaian khusus oleh kanwil (hanya kanwil daerah sini).. yang apa dasar penilainnya pun kita tidak pernah tahu sesungguhnya, yang digembar gemborkan hanya masalah penggalian potensi penerimaan, yang mana tidak membedakan wilayah kerja maupun pembagian “roti pekerjaan” yang sesungguhnya tidak adil dan merata, sedangkan penilaian grade dipukul rata.. sedangkan untuk pegawai lain, penilaian hanya oleh atasan langsung.. yang seringnya berdasar asas belas kasihan rikuh pakewuh yang penting sesuai golongan dengan minimal ambil grade range tengah. realitas selanjutnya… meskipun telah modern, pemikiran pekerjaan teknis dan nonteknis, basah dan kering belum sepenuhnya hilang dari mindset sebagian orang..hingga.. berpengaruh pada pemberian fasilitas dinas..dimana, ketika seorang AR menanyakan hak-haknya untuk mendapat fasilitas dinas ketika berencana untuk benar-benar melakukan perjalanan dinas, maka akan dijawab acuh tak acuh oleh petugas yg bersangkutan, barangkali dipikirnya AR sudah mendapat tunjangan gede jadi tidak perlu lagi diberi sangu… sedangkan yang terjadi ketika pegawai lain (terutama yang diasumsikan sebagai bagian nonteknis) membuat surat tugas “entah kemana”, akan mendapat fasilitas yang seluas-luasnya plus sangu… maka, tunjangan AR pada akhirnya akan habis untuk membiayai segala macam tetek bengek pelaksanaan tugas negara.. seperti membayar telepon buat menghubungi WePe karena telepon sentral dan susah sekali buat telpon keluar, pergi ke warnet,bayarin makan siang ketika dinas luar, bayar bensin ketika mau penyuluhan, de el el.,de el el. Maka sudah pasti…tunjangan tidak akan pernah mendukung penampilan AR hingga terlihat keren!!!
Menjadi AR memang pada akhirnya akan dicari-cari oleh WePe yang akan berkonsultasi…namun, hal tersebut akan membawa konsekuensi bahwa AR akan dicap sebagai si segala tahu.. jadinya.. sebagai seorang AR memang musti harus bener-bener belajar, menimba ilmu supaya ga malu-maluin di depan WePe. Memang akan terlihat keren, ketika AR benar-benar mumpuni dalam bidang pekerjaannya… tapi.. akan menjadi tidak keren, ketika pada akhirnya AR akan menjadi tempat tumpuan dan harapan dari pemecahan segala macam persoalan yang terjadi di kantor ini…hingga pada akhirnya AR tak lebih dari sebuah tong sampah dari persoalan dan permasalah yang tidak jelas SOP nya. Atau.. meskipun telah jelas SOP-nya , namun karena mindset yang terbentuk bahwa AR harus tahu segala.. bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan WePe harus melalui AR-nya..maka akan terjadi… ketika AR dipanggil ke ruang konsultasi untuk menemui WePe..ternyata sang WePe hanya akan meminta blangko SPT (yg jelas-jelas secara SOP blangko tidak disimpan oleh AR, dan pekerjaan cari-cari blangko ini tentu saja tidak diperhitungkan dalam penilaian)…ato lain waktu, WePe hanya bertanya tentang kode MAP (yang seharusnya bisa diberitahukan langsung oleh petugas depan tanpa harus membuat WePe menunggu2 kedatangan seorang AR)..ato lain waktu..AR harus mencari tau apa yang salah dengan sistem komputer yang ada di seksi tetangga yang menyebabkan kasus tidak mucul di komputer AR (yang sepele-sepele tp penting dan ngabisin waktu gini, mana dinilai juga oleh kanwil)…ato lain waktu AR selalu repot dilibatkan dalam segala macam urusan penyuluhan (yang jelas-jelas di SE-nya merupakan tugas dari Seksi tetangga dan jelas pekerjaan ini meski menghabiskan waktu seharian namun tetap tidak akan mempengaruhi penilaian grade oleh kanwil) hanya karena alasan petugas-petugas lain tidak mempunyai wawasan seluas AR. Ato lain waktu… AR harus menderita pegal linu berkepanjangan karena kebanyakan ngamplopi surat pemberitahuan/sosialisasi peraturan baru (yang mana ngabisin waktu namun pd akhirnya diakui begitu saja sebagai pekerjaan seksi lain dan tentu saja tidak diperhitungkan dalam penilaian grade)… Maka sudah pasti…jabatan AR tidaklah sekeren apa yang dibayangkan..karena, jabatan AR sebenarnya beda-beda tipis dengan jabatan Cleaning Service.. yang tugasnya jadi pembantu umum seluruh bagian kantor..yang tugasnya rapi-rapi segala apa yang perlu dirapikan.
Dari segi pekerjaan… AR di kantor ini memang senyatanya sibuk berat..menangani urusan permohonan WePe, yang nampaknya hanya sepele.. tp akan menjadi rumit, ketika permohonan diterima tidak lengkap oleh seksi tetangga, menjadi lebih rumit lagi..ketika berkas permohonan WePe tidak segera dikirim dari seksi tetangga dan setelah ditanyakan ternyata hilang entah kemana… menjadi sangat rumit.. ketika, permohonan telah selesai dikerjakan, tapi tidak segera dicetak dan dikirim oleh seksi tetangga sehingga ujung-ujungnya AR yang kena semprot WePe. Tugas membuat profil WePe..yang sebenarnya akan terlihat sangat keren..maka akan menjadi tidak keren, ketika AR harus turun tangan manjat-manjat rak berkas hingga berkeringat, akibat permintaan berkas tidak segera dipenuhi oleh seksi tetangga..lantas kenyataannya berkas ditemukan tidak lengkap, lantas profil tidak terselesaikan dengan sempurna, hingga penampilannya sumbang nampak kosong disana sini dan tetep yang kena semprot kanwil adalah AR (sedangkan bagi petugas berkas tetap tidak akan berpengaruh apapun pada gradenya….dimana letak keadilannya??) ..atau segala macam tugas pembuatan laporan, penggalian potensi, himbauan, piket sunpol, penyuluhan, konsultasi WePe..berkejar-kejaran dengan segala macam tuntutan penilaian dari kanwil..hingga membuat AR jadi tidak kelihatan keren dalam kondisinya yang awut2an tertekan luar biasa.
jadi teman… untuk menjadi keren atau tidak , bukan terletak pada jabatan menjadi AR atau bukan. Kita andaikan saja… seandainya setiap petugas yang ada di kantor ini, menguasai bidangnya ..bidang apalagi, kalo bukan soal pajak (kalo pegawai pajak bilang ga ngerti pajak..apa kata dunia???).. maka AR tidak akan lagi terlihat sebagai yang paling keren yang musti selalu dilibat2kan untuk segala macam persoalan .. seandainya semua petugas bekerja dengan benar dan tertib…maka AR tidak akan lagi terlihat keren sebagai yang paling sibuk dan yang paling penting..karena sejatinya, semua bagian..semua petugas seharusnya sama pentingnya bagi kelangsungan kantor ini.
Mengangsurlah..pak!
Lagi kumpul bareng teman siang tadi, si uni_ipit nanya :
“kalo ada WP nanya, kenapa saya musti bayar angsuran tiap bulan? kan nanti akhir tahun juga saya bayar semuanya? saya jawab apa dong? “
nah ini… lumayan juga bisa dijadiin bahan postingan…(makasih ya pit!..moga postingan ini mencerahkanmu)..hihihi
ya emang itu…salah satu pertanyaan yang sering dipertanyakan WePe… kalo pajak penghasilan dihitung setahun sekali lewat SPT Tahunan, knapa tiap bulan masih harus setoran..kan tiap tahun juga sudah bayar?
biasanya saya akan menjawab seolah-olah pemerintah begitu memperhatikan kepentingan WePe…maaf, tapi hanya dengan seperti itu, WePe jadi mau mengerti dan peduli…hihihihi. Saya jelaskan bahwa SPT Tahunan itu gunanya untuk menghitung pajak penghasilan selama satu tahun yang telah dilewati, katakanlah penghasilan tahun 2007 baru akan dilaporkan paling lambat akhir Maret 2008 (ini masih mengacu pada UU KUP Lama lho). Nah, selanjutnya..diasumsikan oleh pemerintah, bahwa penghasilan wajib pajak untuk tahun 2008 setidaknya sama dengan penghasilan tahun 2007. Oleh karena itu, untuk meringankan wajib pajak pembayaran diangsur setiap bulan selama tahun berjalan dengan berdasar pajak terutang tahun sebelumnya dibagi 12 (ini kalo pake aturan standar ya)…supaya tidak memberatkan begitu. Kan konotasi nyicil itu meringankan , bapak!. Dengan begini , seringnya WePe jadi mau mengerti dan percaya kalo sebenarnya peraturan itu semata-mata dibuat untuk meringankan mereka. hihihihi.
Tapi kalo ketemunya sama WePe yang sedikit kritis… pasti mereka akan jd bertanya, meringankan apa, wong dibayar dimuka?? dari pada buat nyicil pajek, bukannya lebih baik duitnya diputer dulu ??…nah kalo sudah begini, saya jadi mumet… hehehehe… mau dijawab “memang undang-undangnya seperti itu”.. pastinya masalah akan selesai tapi tidak memuaskan kedua belah pihak, WePe dan saya sendiri pasti akan tetap penasaran, alasan apa kok Undang-undang dibuat demikian? ga mungkin kan saya nanya langsung ke penyusun dan pembuat Undang-undang tersebut, lha wong saya juga ga kenal sama orang-orangnya. Mau tidak mau, saya jadi harus lebih rajin berpikir dan ngarang-ngarang sendiri..
Barangkali kira-kira demikian
Bahwa meskipun yang menjadi dasar perhitungan pajak adalah penghasilan satu tahun ( jadi secara riilnya mau tidak mau harus dihitung setelah akhir tahun) , namun dalam setiap bulannya WePe sebenarnya telah memperoleh penghasilan yang seharusnya sudah terhutang pajak. Seperti layaknya pajak untuk karyawan (PPh Pasal 21) yang otomatis diperhitungkan, dipotong dan disetor dalam setiap bulannya, barangkali juga seperti demikian harusnya untuk WePe Badan Usaha dan Orang Pribadi (Usahawan), dimana dia dapat penghasilan disitulah saat timbulnya pajak. Nah kalo pajak mereka harus dihitung untuk penghasilan setiap satu bulan sekali…walah, pasti akan sangat merepotkan sekali terutama untuk Badan Usaha. Maka, dibuatlah sebuah aturan yang kira-kira bisa diterima kedua belah pihak.. bagi Negara, pajak yang seharusnya sudah terutang itu masuk sebagai penerimaan negara (meski jumlahnya tidak pas banget dengan penghasilan yang sebenarnya diterima WePe) dan bagi WePe, aturan tersebut telah didesain supaya tidak merepotkan. Jadi tidak benar kalo dibilang angsuran PPh Pasal 25 adalah pajak yang dibayar dimuka, lha wong sebenarnya tiap bulannya juga WePe sudah dapat penghasilan dan mestinya sudah terutang pajak (tapi, ya kalo ada laba sih).
Ya barangkali saja demikian…
Dan pula…Kalo WePe maunya bayar pajak kontan setahun sekali…bisa repot juga negara ini… walah..bisa-bisa saya juga digajinya setahun sekali…jadi , tolonglah pak..bu..dibayar saja angsurannya….hihihihi.
-
Recent
- Merah Hijau Kuning Rekanku
- Remunerasi bikin polusi?
- Sunset Policy = kalo tidak sunset dilaporkan polisi
- Horeee….File-nya nongol lagi
- Selamat Jalan..Guruku.
- sunpol vs skp
- sunpol vs sistem
- Kalo Kambing bisa ngomong….
- Tidak hanya AR yang bisa keren!
- Stop kirimi saya email “itu” !!!
- ketika balita anda mengenal internet…waspadalah..!!!!
- bikin hidup lebih hidup
-
Links
-
Archives
- December 2008 (12)
- November 2008 (4)
- October 2008 (18)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS