STP PPh Pasal 21 Tahunan, almarhum sebelum waktunya?
cerita minggu ini..lagi dibingungkan oleh masalah penerbitan Surat Tagihan Pajak buat wepeh2 yang ga lapor SPT Tahunan PPh Pasal 21 tahun pajak 2008. kebingungan terjadi sehubungan dengan UU KUP baru (terbit tahun 2007 berlaku per Januari 2008) tepatnya pada pasal 7 ayat(1) nya yang menyebutkan bahwasanya :
Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) atau batas waktu perpanjangan penyampaian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4), dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa lainnya, dan sebesar Rp1.000.000,00 (satu Juta rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan serta sebesar Rp100.000.00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi.
rancu ga sih dengan kalimat “Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan” …atau kalimat “Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi” ? karena untuk tahun pajak 2008,kita mengenal ada 3 jenis SPT Tahunan, yaitu SPT Tahunan PPh Badan (form 1771), SPT Tahunan PPh Orang Pribadi (varian form 1770) dan SPT Tahunan PPh Pasal 21 (form 1721). Nah yang dimaksud dengan SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Badan dalam Pasal 7 ayat (1) nya KUP itu yang mana? apakah SPT 1771? atau SPT Tahunan yang wajib dilaporkan oleh wajib pajak berbentuk Badan yang mana bisa jadi SPT 1771 dan / atau SPT 1721 ? apakah hal ini perlu dibahas????…tentu saja..karena ini terkait dengan besarnya denda yang harus diterbitkan bagi wajib pajak bandel yg ga mau laporan SPT Tahunan PPh Pasal 21 tahun pajak 2008!!!
seandainya wajib pajak berbentuk badan usaha, tidak sudi melaporkan SPT Tahunan PPh Pasal 21…dengan adanya dua penafsiran tersebut..akankah denda yang dikenakan sebesar satu jeti, atau tidak kena sama sekali ? demikian pula dengan wajib pajak orang pribadi yang mempekerjakan pegawai… kalo ga lapor, akankah dia dikenakan denda seratus rebu, atau tidak sama sekali karena di KUP itu jelas tidak disebutkan denda bagi wepeh yang tidak lapor SPT Tahunan PPh Pasal 21. Lebih mumet lagi..kalo yg ngeyel ga mau lapor adalah seorang bendahara.. yang tidak jelas jenis kelaminnya apakah dia badan usaha atau orang pribadi…denda berapa kah yang harus ditimpakan atas kemalasannya itu?? ..haiyah…
karena kerancuan itu,saya mencoba mencari jawaban dengan ngintip2 ke aplikasi administrasi di SIDJP (meski berisiko terkena kutukan bintit)…pada menu pembuatan stp, dicobakan masukin npwp badan ..pilih jenis pajak PPh Pasal 21 TAhunan , pilih denda pasal 7 kup sesuai UU KUP baru..jreng..jreng…muncul angka satu juta…lantas dicoba npwp orang pribadi..jreng..jreng..muncul angka satu juta….belum kapok dicoba lagi..masukin npwp bendahara ..jreng jreng..lagi2 satu juta…halah..halah..halah… ternyata jenis kelamin tidak membedakan jumlah denda.
ditengah keresahan yang semakin membuncah..saya email ke teman.. (semoga ibu-ibu dan bapak2 dari KITSDA baca ini, kalo saya email2an semata2 karena pekerjaan..gyahahahaha)…dan kata teman saya yang sebenarnya tidak ganteng tp suka ngaku2 ganteng itu , kurang lebih begini : ya emang rancu..(jawaban macam apa itu!! gitu kok ngaku ganteng!)..tapi kan SPT Tahunan PPh 21 ke depannya emang ngga ada… (dasar dudul..yg lg diomongin ini tahun pajak 2008!..gitu kok ngaku ganteng!) ..tapi bener juga sih, saya jadi mikir jangan-jangan KUP baru itu selangkah lebih maju, jd ga nyebut2 adanya kewajiban tahunan PPh Pasal 21..alias kecepeten di keluarinnya..hihihihi..tapi harusnya kan ada aturan yang membahas soal masa transisi ini (ato emang ada?..kl ada yg punya..mau dong dibagi!!)… nah begitulah…soal kasus STP denda pasal 7 KUP Baru khusus untuk PPh Pasal 21..dengan ini dinyatakan terkatung2..hehehe
selain itu…kebingungan saya ternyata belum berakhir… ceritanya, saya sudah menghimbau dan menghiba2 ke wepeh badan yang cabang yang pabrik kayu itu, agar segera menyetorkan dan melaporkan kewajiban SPT Tahunan PPh Pasal 21 tahun 2008 karena sampe dengan bulan oktober kok ga disetor2 (lihatlah..bukankah sesungguhnya perjuanganku patut diacungi jempol?..hihihihi).. wepeh tergerak hatinya dan membayar…lantas saya bilang via telpon…bapak, bersiaplah untuk menerima surat cinta sebagai tanda ucapan terima kasih bernama STP karena terlambat setor..hihihihi…nah ..waktu itu, dikala hari hujan..saya lagi niat banget tuh buat nagih2, dihitunglah sanksi bunga atas keterlambatan setor tersebut..pas bikin nota hitung model baru..saya jd mumet… kliyeng2 nyaris juling, nyari2 kolom dan baris berjudul sanksi administrasi pasal 9 ayat 2(b) KUP terkait dengan keterlambatan penyetoran jumlah kurang bayar dalam SPT Tahunan…ternyata eh ternyata…kok ngga ada sodara2…halah..halah, (sepertinya KUP dan pernik2nya itu memang dibuat untuk suatu masa dimana SPT Tahunan PPh Pasal 21 sudah dinyatakan almarhum)…baiklah…saya mencoba mencari pertolongan lewat aplikasi administrasi SIDJP..ternyata …ada pilihan untuk sanksi Pasal 9 ayat 2(b) itu dan bisa diinput…namuuuuunnn…..setelah dibangkitkan menjadi kasus..dan kasus diinput..selesai..ternyata eh ternyata…dalam preview dan print out STP..tidak nongollah sanksi pasal 9 ayat 2(b) itu…. (dan marilah kita bersama-sama menyanyikan hymne mengheningkan cipta sejenak)….demikianlah…akhirnya, STP itu dibuat secara manual dengan sedikit pemaksaan merombak format resmi-nya…hiks.
jadi pertanyaannya : adakah yg bisa memberi kan solusi terkait dengan hal ini?
Sunset Policy = kalo tidak sunset dilaporkan polisi
Suka heran karena akhir-akhir ini banyak WePe telpon atau datang nyari saya, meski setelah ditanya dari mana asal usul mereka..ternyata bukan masuk ke wilayah kekuasaan saya. Tadinya saya pikir.. telah terjadi kesalahan pencantuman nama AR dalam surat-surat bernafas sosialisasi itu, yang barangkali yang tercantum sebagian besar melulu AR-nya saya. Sebuah kemisteriusan yang menjengkelkan.. karena konsentrasi kerja saya jadi sedikit terganggu.
Tapi akhirnya misteri itu sedikit demi sedikit terkuak, dalam ketidak sengajaan..
Suatu ketika , ada WePe yang perangkat desa itu datang kepada saya.. tepatnya langsung mencari nama saya di pos satpam..setelah ngobrol ngalor ngidul.. pada akhirnya dia menunjukkan sebuah surat rekomendasi dari kecamatan, yang mana didalam surat itu menyebutkan agar si penerima surat menemui AR yang bernama XXX..dan XXX itu saya. Surat dari camat ditujukan kepada seluruh kepala desa dalam lingkungan kecamatan YYY. Pantessss…akhir2 ini saya mendadak tenar ditelpon..dicari-cari para aparat desa yang minta petunjuk (keluh)
Hari ini..satu misteri lagi terkuak… ketika masih sibuk ngurusin WePe saya yang pengen tanya jawab soal SKF, pak satpam bilang bahwa di luar sudah ada yang ngantri dari desa ZZZ ..saya bilang ..itu bukan wilayah saya..tapi pak satpam keukeuh, WePe nya bilang nyari mbak kok…hayah…
Selesai dengan WePe yang pertama (halah …kok kesannya jadi sedikit mesum ..hihihi)..masuklah sepasang suami istri..mau konsultasi soal sunset..saya bilang ke pasangan tersebut, bahwa kiranya mereka salah alamat mencari saya, saya bukan AR mereka..ketika saya katakan agar mereka bersedia menunggu sebentar untuk saya panggilkan AR yang sejati.. mereka bilang, cuma mo konsultasi sebentar kok Bu (aaah…saya harus mulai terbiasa bersabar dipanggil Ibu)..ayayayaya…ngobrol ngalor ngidul.. akhirnya saya bilang..lain kali kalo mau konsultasi langsung sama AR nya saja yaitu Mbak QQQ, tapi mereka bilang.. Kemaren kita ngobrol sama teman-teman sesama WePe, terus katanya kalo mau konsultasi soal sunset langsung ketemu Bu XXX saja…dan Bu XXX itu adalah saya!!! AAARRRRGGGHHHHH….!!!!! pantas saja …saya mendadak tenar.
Saya pikir ini pasti gara-gara , saya pernah menjadi pembicara untuk acara sosialisasi sunset kemaren dulu… nasib..nasib…
Tapi ada sedikit yang menggelikan yang diungkapkan pasangan yang ketemu saya tadi.. ketika saya jelaskan bahwa untuk pembetulan harta saja, tidak termasuk dalam kategori pembetulan sunset.. dan mereka bilang, ga papa bu..yang penting saya laporkan.. katanya kalo saya tidak ikut sunset, dan harta yang saya miliki tidak diungkap seluruhnya di SPT, saya bisa dilaporkan ke polisi …dan saya mendadak menderita komplikasi antara kepengen ngakak sambil merasa saya telah gagal menjadi seorang pembicara
Aaaah…lagi-lagi hanya pembetulan harta, kapan ya kurang bayarnya?
sunpol vs skp
masih tentang sunset policy…
kalo ga salah di PMK nya..disebutkan pembetulan sunpol dapat dilakukan sepanjang atas SPT Tahunan tahun pajak yang bersangkutan belum diterbitkan skp.
maka muncullah salah satu kasus yang membingungkan teman saya:
telah dilakukan pemeriksaan terhadap WePe dan telah diterbitkan skp untuk tahun pajak xxxx. sehubungan dengan adanya sunpol..WePe bermaksud melakukan pembetulan untuk tahun pajak xxxx tersebut, karena WePe merasa bahwa terdapat penghasilan yang belum diperhitungkan oleh pemeriksa. alias. pembetulan yang dilakukan WePe akan mengakibatkan jumlah kurang bayar yang lebih besar dari pada temuan pemeriksa.
yang menjadi masalah…terbentur oleh aturan PMK tsb diatas..maka pembetulan WePe akan tidak memenuhi syarat sebagai pembetulan sunpol yang otomatis akan tetap dikenakan sanksi. Sungguh sayang , dengan adanya benturan tersebut, maka WePe tidak jadi mengungkap jumlah kurang bayar yang sebenarnya, lantas melayang sudah potensi penerimaan negara.
sunpol vs sistem
ini tentang pelaksanaan sunset policy..
kalo ga salah di PMK-nya… pembetulan sunset policy bisa dilakukan untuk SPT Kurang Bayar yang terkait dengan PPh Pasal 29, PPh Pasal 4 ayat (2) dan PPh Pasal 15
kesulitannya… ternyata untuk mengentry di sistem kompie-nya, sepanjang pembetulan tidak menyebabkan jumlah kurang bayar PPh Pasal 29, maka akan dibaca sistem sebagai pembetulan biasa alias bukan sunpol.
masalahnya..ada beberapa WePe yang bermaksud untuk membetulkan PPh Pasal 4 ayat(2) yang kurang/memang belum dibayar… jd repot kan???!!!
Tidak hanya AR yang bisa keren!
Di kantor saya, Menjadi seorang Account Representative (AR) sering dipandang keren. Bahkan ada beberapa teman yang bilang kalo para AR seperti mengekslusifkan diri. Bahkan ada beberapa teman yang menyesal kenapa tidak terpilih menduduki jabatan AR, dan ada yang bercita-cita dapat menjadi AR kelak.
Saya sendiri sebagai seorang AR.. tidak pernah merasa keren bahkan sempat bertanya-tanya..keren-nya itu dimana? apa karena tunjangannya yang lebih besar sekian ratus ribu (ga sampe juta) itu? atau karena jabatannya, yang memang jadi kelihatan most wanted dan tenar diantara WePe2 ? atau karena pekerjaannya, yang memaksa AR jadi kelihatan demikian sibuknya sehingga kelihatan penting?
mari kita urai satu persatu secara realitasnya..
Sebagai seorang AR.. saya memang mendapat tunjangan khusus dalam setiap bulannya… kalo boleh dihitung.. untuk grade yang sama, antara seorang AR dan seorang Pelaksana akan menimbulkan perbedaan penghasilan tidak sampe satu juta. lantas… mari kita bandingkan..ketika grade AR lebih kecil satu tingkat ketimbang pelaksana, maka perbedaan penghasilan akan semakin mengecil.. atau ketika grade AR masih di range bawah 9 ..dan grade pelaksana di range 9 ke atas..jangan lagi ditanya..pasti take home pay AR akan lebih sedikit sekali dibanding take home pay pelaksana ..realitas berikutnya…untuk penilaian grade AR, dibuat penilaian khusus oleh kanwil (hanya kanwil daerah sini).. yang apa dasar penilainnya pun kita tidak pernah tahu sesungguhnya, yang digembar gemborkan hanya masalah penggalian potensi penerimaan, yang mana tidak membedakan wilayah kerja maupun pembagian “roti pekerjaan” yang sesungguhnya tidak adil dan merata, sedangkan penilaian grade dipukul rata.. sedangkan untuk pegawai lain, penilaian hanya oleh atasan langsung.. yang seringnya berdasar asas belas kasihan rikuh pakewuh yang penting sesuai golongan dengan minimal ambil grade range tengah. realitas selanjutnya… meskipun telah modern, pemikiran pekerjaan teknis dan nonteknis, basah dan kering belum sepenuhnya hilang dari mindset sebagian orang..hingga.. berpengaruh pada pemberian fasilitas dinas..dimana, ketika seorang AR menanyakan hak-haknya untuk mendapat fasilitas dinas ketika berencana untuk benar-benar melakukan perjalanan dinas, maka akan dijawab acuh tak acuh oleh petugas yg bersangkutan, barangkali dipikirnya AR sudah mendapat tunjangan gede jadi tidak perlu lagi diberi sangu… sedangkan yang terjadi ketika pegawai lain (terutama yang diasumsikan sebagai bagian nonteknis) membuat surat tugas “entah kemana”, akan mendapat fasilitas yang seluas-luasnya plus sangu… maka, tunjangan AR pada akhirnya akan habis untuk membiayai segala macam tetek bengek pelaksanaan tugas negara.. seperti membayar telepon buat menghubungi WePe karena telepon sentral dan susah sekali buat telpon keluar, pergi ke warnet,bayarin makan siang ketika dinas luar, bayar bensin ketika mau penyuluhan, de el el.,de el el. Maka sudah pasti…tunjangan tidak akan pernah mendukung penampilan AR hingga terlihat keren!!!
Menjadi AR memang pada akhirnya akan dicari-cari oleh WePe yang akan berkonsultasi…namun, hal tersebut akan membawa konsekuensi bahwa AR akan dicap sebagai si segala tahu.. jadinya.. sebagai seorang AR memang musti harus bener-bener belajar, menimba ilmu supaya ga malu-maluin di depan WePe. Memang akan terlihat keren, ketika AR benar-benar mumpuni dalam bidang pekerjaannya… tapi.. akan menjadi tidak keren, ketika pada akhirnya AR akan menjadi tempat tumpuan dan harapan dari pemecahan segala macam persoalan yang terjadi di kantor ini…hingga pada akhirnya AR tak lebih dari sebuah tong sampah dari persoalan dan permasalah yang tidak jelas SOP nya. Atau.. meskipun telah jelas SOP-nya , namun karena mindset yang terbentuk bahwa AR harus tahu segala.. bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan WePe harus melalui AR-nya..maka akan terjadi… ketika AR dipanggil ke ruang konsultasi untuk menemui WePe..ternyata sang WePe hanya akan meminta blangko SPT (yg jelas-jelas secara SOP blangko tidak disimpan oleh AR, dan pekerjaan cari-cari blangko ini tentu saja tidak diperhitungkan dalam penilaian)…ato lain waktu, WePe hanya bertanya tentang kode MAP (yang seharusnya bisa diberitahukan langsung oleh petugas depan tanpa harus membuat WePe menunggu2 kedatangan seorang AR)..ato lain waktu..AR harus mencari tau apa yang salah dengan sistem komputer yang ada di seksi tetangga yang menyebabkan kasus tidak mucul di komputer AR (yang sepele-sepele tp penting dan ngabisin waktu gini, mana dinilai juga oleh kanwil)…ato lain waktu AR selalu repot dilibatkan dalam segala macam urusan penyuluhan (yang jelas-jelas di SE-nya merupakan tugas dari Seksi tetangga dan jelas pekerjaan ini meski menghabiskan waktu seharian namun tetap tidak akan mempengaruhi penilaian grade oleh kanwil) hanya karena alasan petugas-petugas lain tidak mempunyai wawasan seluas AR. Ato lain waktu… AR harus menderita pegal linu berkepanjangan karena kebanyakan ngamplopi surat pemberitahuan/sosialisasi peraturan baru (yang mana ngabisin waktu namun pd akhirnya diakui begitu saja sebagai pekerjaan seksi lain dan tentu saja tidak diperhitungkan dalam penilaian grade)… Maka sudah pasti…jabatan AR tidaklah sekeren apa yang dibayangkan..karena, jabatan AR sebenarnya beda-beda tipis dengan jabatan Cleaning Service.. yang tugasnya jadi pembantu umum seluruh bagian kantor..yang tugasnya rapi-rapi segala apa yang perlu dirapikan.
Dari segi pekerjaan… AR di kantor ini memang senyatanya sibuk berat..menangani urusan permohonan WePe, yang nampaknya hanya sepele.. tp akan menjadi rumit, ketika permohonan diterima tidak lengkap oleh seksi tetangga, menjadi lebih rumit lagi..ketika berkas permohonan WePe tidak segera dikirim dari seksi tetangga dan setelah ditanyakan ternyata hilang entah kemana… menjadi sangat rumit.. ketika, permohonan telah selesai dikerjakan, tapi tidak segera dicetak dan dikirim oleh seksi tetangga sehingga ujung-ujungnya AR yang kena semprot WePe. Tugas membuat profil WePe..yang sebenarnya akan terlihat sangat keren..maka akan menjadi tidak keren, ketika AR harus turun tangan manjat-manjat rak berkas hingga berkeringat, akibat permintaan berkas tidak segera dipenuhi oleh seksi tetangga..lantas kenyataannya berkas ditemukan tidak lengkap, lantas profil tidak terselesaikan dengan sempurna, hingga penampilannya sumbang nampak kosong disana sini dan tetep yang kena semprot kanwil adalah AR (sedangkan bagi petugas berkas tetap tidak akan berpengaruh apapun pada gradenya….dimana letak keadilannya??) ..atau segala macam tugas pembuatan laporan, penggalian potensi, himbauan, piket sunpol, penyuluhan, konsultasi WePe..berkejar-kejaran dengan segala macam tuntutan penilaian dari kanwil..hingga membuat AR jadi tidak kelihatan keren dalam kondisinya yang awut2an tertekan luar biasa.
jadi teman… untuk menjadi keren atau tidak , bukan terletak pada jabatan menjadi AR atau bukan. Kita andaikan saja… seandainya setiap petugas yang ada di kantor ini, menguasai bidangnya ..bidang apalagi, kalo bukan soal pajak (kalo pegawai pajak bilang ga ngerti pajak..apa kata dunia???).. maka AR tidak akan lagi terlihat sebagai yang paling keren yang musti selalu dilibat2kan untuk segala macam persoalan .. seandainya semua petugas bekerja dengan benar dan tertib…maka AR tidak akan lagi terlihat keren sebagai yang paling sibuk dan yang paling penting..karena sejatinya, semua bagian..semua petugas seharusnya sama pentingnya bagi kelangsungan kantor ini.
-
Recent
- ijinkan saya menulis dengan pena saya sendiri
- kalo situ, lebih suka dinego atau ngga?
- STP PPh Pasal 21 Tahunan, almarhum sebelum waktunya?
- jokjit…jok pijit
- selembar kertas kosong tanpa pena
- Hi..i’m Back
- Merah Hijau Kuning Rekanku
- Remunerasi bikin polusi?
- Sunset Policy = kalo tidak sunset dilaporkan polisi
- Horeee….File-nya nongol lagi
- Selamat Jalan..Guruku.
- sunpol vs skp
-
Links
-
Archives
- December 2009 (3)
- November 2009 (3)
- December 2008 (12)
- November 2008 (4)
- October 2008 (18)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS