kalo situ, lebih suka dinego atau ngga?
berita hari ini, lagi marak demo anti korupsi di hari bebas korupsi (ini kata teman saya di status FB-nya: hari bebas korupsi, hari dimana orang bisa korupsi sebebas-bebasnya)….hahahaha..kok jadi inget jaman dulu…waktu saya masih ngantor di kota orang..kantor pertama saya..
saya tidak sedang ingin bercerita tentang kejadian2 seputar korupsi di kantor saya kok..jangan mencibir dulu..hehehe..
dulu…ketika saya masih berstatus sebagai anak kost kurang kerjaan, saya jd suka cari-cari kesibukan..salah satunya ikut kursus gitar klasik di tempat kursusan di dekat kost saya. nah …ternyata, yang punya kursusan itu salah satu wepeh yang lumayan juga setoran pajaknya..sebenarnya ga ngaruh juga dia mau wepeh atau ngga..bussiness is bussiness..halah..kerja ya kerja, kursus ya kursus..itu bagi saya..tapi sayangnya mereka (adik dari si pemilik dan beberapa tentornya) tau kalo saya orang pajak. Nah suatu ketika, waktu ngobrol2 bareng sambil nunggu giliran make studio..saya ditanya2 soal pajak..sampe pada bagian ketika adik pemilik kursusan bilang : ” kalo orang pajak itu, mriksa (rupanya perusahaan sang kakak pernah diperiksa dan dia yang ngurusin ke kantor)…ketemunya sekian terus bisa diturunin ya..nego ..fifty-fifty..emang gitu ya mbak?”..ya saya bilang ” ngga semua orang pajak kali mas?”…tapi iya kok saya kemaren begitu..ngurusin keberatan jg begitu…dan mulailah dia berorasi tentang kebusukan pegawai2 di kantor saya, yang menawarkan apa yg dinamakan kolusi.. (jd kalo hari ini ada demo antikorupsi, yang hobi kolusi boleh jalan terus..hahahaha)..dengan nada menghina dina dan melecehkan tentunya… saya manggut-manggut mendengarkan..tidak membela tidak mengiyakan..menunggu dengan sabar hingga dia selesai bicara, memuntahkan segala macam kekesalannya atas kekurangajaran orang2 dikantor saya… dan selesailah….tibalah saatnya saya memberi tanggapan, sanggahan, atau jawaban… saya hanya berucap singkat ” nah situ sendiri, suka dinego atau ngga?”…dan memerahlah mukanya, tersipu2 bilang “iya sih, lebih suka nego”…….hahahahaha…
saya ngga tau..apa yg ada dipikiran orang itu mendengar tanggapan saya, bisa jadi dia mengira saya juga seorang pemain…atau bisa jadi dia menganggap saya sedang membela nama baik instansi….persetan.. sebenarnya saya cuma ingin bilang.. ga usah banyak omong ngobral kebusukan orang, kalo dia sendiri sebenarnya ngarepin itu.. kolusi ngga mungkin bisa terjadi kalo bukan karena dua pihak sepakat menginginkannya. sama halnya dengan korupsi..korupsi tidak akan merajalela jika kita tidak membiarkannya terjadi..
contoh kecil saja, di kantor saya …dulu..sebelum modern…ga mau muna, seperti apa yg diomongkan orang kursusan tadi..emang ada..antara aparat dengan wajib pajak, maka itu disebut kolusi… secara internal, penggunaan anggaran negara untuk kepentingan pribadi..itu disebut korupsi…saya melihat, teman2 saya melihat..tapi tidak melakukan apa2 atas dasar rasa ewuh pakewuh, rikuh, tidak enak menjerumuskan teman sendiri sampe rasa takut melawan atasan..terus membiarkan itu terjadi sekali kali mencicipi apa yg namanya enaknya ditraktir, selayaknya sebuah hal yang biasa…dan terjadilah!
Ngurus KTP nembak (itu saya)…bikin SIM juga nembak (itu saya lagi)…semata-mata karena ga mau repot melawan birokrasi yang dibuat sulit..knapa dibuat sulit? karena butuh duit.. knapa musti duit? karena konon kamu belum bisa dibilang hebat kalo belum berduit..bahkan anak-anak di negeri ini pun telah diajarkan untuk pintar-pintar bersekolah agar kalo sudah lulus bisa gampang cari duit…duit..duit..duit..lama-lama sistem negara ini jadi sakit.
sistem nya sakit ..borok yang hampir busuk, kata orang..mustinya ditanyakan, knapa bisa jadi busuk? karena dibiarkan dan tidak diobati..malah keenakan digaruk2, jadi melebar….begitulah… dan tentunya mengobati tidak bisa cuma dengan cara meraung-raung kesakitan..demo dipinggiran jalan, kalo mau sembuh ya bersihkan..usir lalat2 yang hinggap, obati pake obat antiseptik yang generik…perih memang..tapi sembuh..kalo sudah, biar tidak kambuh…jangan main di comberan dan musti selalu ingat mandi yang bersih tiap hari.
selembar kertas kosong tanpa pena
Jika jiwa dalam kelahirannya adalah bagai selembar kertas kosong…tidak kah bagian terbesar dari halamannya telah tergoresi larik larik tinta yang bukan berasal dari pena kita?
Jika jiwa dalam kelahirannya bagai selembar kertas kosong, …..siapakah pemilik pena yang sebenarnya?
ada goresan pena ayah dan ibu disana, dengan tinta berwarna kesantunan, kepatuhan, akhlak , budipekerti, dan agama
ada baris-baris pena bapak dan ibu guru , tertulis rapi dan sistematis dengan tinta bermerk ilmu dengan simbol manusia bertoga..lambang kesuksesan masa depan cemerlang.
ada guratan pena teman, bercerita tentang kesetiakawanan dan persaingan..meski sebenarnya sedang tidak ingin setia , meski bersaing sejujurnya tak membuat hati nyaman.
ada catatan petuah-petuah bijak, dogma, dan segala macam teori yang nampaknya tersalin sekedar mengisi kekosongan menunggu cairnya kebekuan daya pikir yang entah kapan..karena kemalasan lebih enak bila dicekoki dan didoktrin saja.
lantas kumpulan para tetangga dan kerabat dekat yang menamakan dirinya masyarakat tak mau ketinggalan, beramai-ramai menorehkan pena membingkai kertas agar goresan-goresan yang terserak menjadi terlihat rapi ..rapi meski semu..atas nama norma dan kelaziman…
demikianlah layaknya selembar kertas kosong…akan selalu menarik minat untuk dicoret. sebagaimana layaknya sebuah kelaziman…biasa…
kemudian tersadar…… bahwa kita justru tak punya lagi tempat, untuk sekedar menulis sebuah cerita pendek dengan kisah seperti apa yang kita inginkan.. yang tersisa hanya ruang-ruang spasi kalimat dan sedikit tempat diluar bingkai yang dibuat…ruang-ruang spasi yang hanya muat kita isi dengan kata sambung ‘dan’ juga ‘atau’ , atau mau nekat menulis mengabaikan bingkai yang menjadikan halaman kita tak lagi terlihat rapi? coba saja kalo berani!!
jika lembar itu tak lagi kosong sedang kita tak mungkin meminta yang baru…. beranikah kita menghapus tinta-tinta yang tertoreh, dan memulai kembali menuliskan kisah seperti apa yang kita harapkan?
tambahkan saja apa yang kau suka!
Gara-gara bikin 10 fakta tentang saya..saya baru nyadar, kalo saya punya kebiasan-kebiasan dalam hal makan memakan..hehehe..seperti ini misalnya:
1.
saya penganut prinsip save the best for last…yang enak-enak dimakan belakangan. Menurut orang jaman dulu, kalo makan enak dibelakang maka hidupnya pun akan demikian..ibarat pepatah, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Tapi sebenarnya saya bukan penganut pepatah itu… yang enak dimakan belakangan ga ditelan bareng nasi maksudnya, ya karena biar lebih berasa aja taste-nya.. kalo dibarengin nasi kan jadi kurang berasa gitu..kenapa di belakang, ya biar rasanya terngiang-ngiang terus..kalo abis itu maem nasi kan jadi lupa rasanya…hihihihihi.
2.
saya paling anti makanan berkuah dicampur kecap ato saos… lagi-lagi karena mengurangi rasa aslinya kalo menurut saya.
3.
Kalo harus menambahkan cabe dalam makanan, saya tidak suka terlalu banyak(paling juga 2 biji doang)…kalo pedas banget..lagi-lagi karena akan mengurangi keaslian rasa kalo menurut saya.
Dari situ saya mikir… dalam menyantap makanan telah menciptakan kebiasan, yang sekiranya membuat saya lebih menikmati hidangan yang disajikan. Sesuai selera saya tentunya.. kalo saya suka makan bakso tanpa kecap dan saos.. tidak barangkali buat orang lain. Bagi saya dengan menambah kecap dan saos, akan mengurangi keaslian rasa…tapi bagi orang lain, barangkali justru kecap dan saos yang ditambahkan akan melengkapi rasa.
Dan begitu juga barangkali dengan hidup… saya tidak bisa mengatakan bahwa hidup A kurang lengkap karena tidak ditambahkan “ini”… saya tidak bisa mengatakan bahwa kehidupan B menjadi tidak lagi nikmat karena kebanyakan “itu”. Semua sesuai dengan selera dan kebutuhan masing-masing saya kira… kadang kita merasa hidup kita baru lengkap jika hidup ini telah memiliki keluarga yang dicintai, kekayaan, ketenaran, kepandaian, tingkat kereligiusan yang tinggi… tapi barangkali bisa jadi bagi orang lain, hal itu justru akan mengurangi rasa dalam menikmati hidup itu sendiri… dan kita tidak pernah tahu, seperti apakah selera dan kebutuhan dari masing-masing orang? pasti akan berbeda satu sama lain, saya yakin tak ada keseragaman mutlak soal ini. Jadi saya pikir.. saya tidak bisa menggunakan kacamata diri saya sendiri untuk menilai keberhasilan hidup orang lain…seperti halnya saya tidak peduli jika dianggap telah gagal dalam hidup, jika parameter penilaiannya memang bukan menjadi tujuan hidup saya.
Selembar Nyawa tak Berharga di sini…
Tiap hari nglaju rumah- kantor pp, saya sering dibikin geleng-geleng, mumet dan kadang kena serangan ayan ringan …melihat polah para pengendara , terutama motor, di jalan raya. Heran saja… semakin banyak saja pengendara motor yang ngawur, ga pake etika di jalan raya. Mulai dari ke-ngawuran (hwayah..kata yang dipakai ini jg sebuah bentuk kengawuran) yang sederhana nekat menyalip dari kiri meski kondisi mobil mepet trotoar.. belok tanpa menyalakan lampu sen.. sampe yang tiba-tiba nyelonong keluar gang tanpa liat kanan dan kiri..dan satu lagi yang sering bikin gemas, di tengah jalan raya yang padat kok ya sempat-sempatnya naik motor sambil sms-an atau bercanda-canda dengan teman diboncengan. Ya kalo mereka mau celaka sendiri sih, sebodo amat …tapi yang namanya di jalan raya, jarang sekali kan yang namanya kecelakaan tunggal…seringnya ngajak korban lain..yang barangkali sudah tertib dalam berkendaraan, dan jadi korban, cuma gara-gara keteledoran dan ketololan pengendara lain.
Saya suka heran dengan manusia-manusia di tanah air ini… kok ya sepertinya pada ga sayang sama nyawa…ngga menghargai nyawa sendiri terlebih-lebih nyawa orang lain. Yang penting bisa menjalankan kendaraan …punya uang buat nembak SIM, dan sudah…selanjutnya silahkan menggunakan jalan raya milik umum. Melanggar rambu bukan hal yang memalukan, kena tilang berkali-kali pun, asal tidak menimbulkan korban, cukup membayar denda lantas silahkan berkendaraan kembali. Padahal kalo mau dicerna pelanggaran-pelanggaran itu kan sebenarnya berpotensi membahayakan jiwa pengendara lain.. sekecil apapun keteledoran di jalan raya bisa berakibat sangat-sangat fatal… kok ya ga ada rasa prihatinnya gitu.
Makanya saya suka iri melihat negara-negara maju..yang begitu memikirkan keselamatan pengguna jalan raya. Mulai dari pembuatan driving lisence yang benar-benar melalui tahap-tahap ujian yang tidak gampang dan sederhana. Atau penindakan tegas bagi pelanggar rambu. Terutama untuk kendaraan-kendaraan yang melanggar batas kecepatan..sampai dengan hal-hal sederhana seperti pengenaan sanksi bagi pengendara yang parkir tidak pada tempatnya. Beda sekali dengan negara yang tadinya hampir berkembang tapi akhir-akhir ini nyaris terpuruk, dimana banyak bocah-bocah-belum-cukup-umur dibiarkan berkendara lalu lalang di jalan raya. Bahkan saya suka dibikin heran sama orang tua jaman sekarang yang telah mengajarkan cara berkendaraan pada anaknya di usia dini yang tentu saja masih brangasan labil emosinya.. lantas membiarkan mereka kemana-mana berkendara sendiri…kok ya tega.. bukankah itu sama saja menggadaikan jiwa-jiwa anak mereka sendiri? Ya tapi itulah kenyataan dari sebuah negara (semoga akan tetap bisa) berkembang…dimana yang tersisa hanya rasa gengsi yang berlebihan karena tidak ada sesuatu yang bisa dibanggakan. Mau apa lagi? Bahkan selembar nyawa pun tidak berharga di sini.
Si Merahku sayang.. si merahku malang
Si merah , mobil tua kesayangan saya itu, sejak bulan puasa kemaren mendadak jadi manja dan suka rewel. Tepatnya semenjak dia harus masuk ruang perawatan bengkel karena bagian belakang tubuhnya penyok di tabrak motor dari belakang, pada suatu sore sepulang saya dari kantor.
Ada – ada saja tingkahnya, yang mendadak banjir dimana-mana ketika ujan turun, yang ga mau di starter , yang kaca mukanya blur sampe musti jalan dengan kecepatan siput ketika hujan turun lebat, yang body bagian belakang seperti keliatan anjlok gara-gara plat-nya bengkok, yang wipernya tiba-tiba ngadat ditengah hari hujan, yang kaca jendelanya ga bisa ditutup..dan yang terakhir.. baru sore ini, pintu depannya tiba-tiba ga bisa dibuka dari dalam…hahahahaha…
Bikin senewen juga sebenernya… abis betulin ini,,gantian itu yang ngadat…dibetulin, gantian yang lain lagi…hari libur saya setiap minggunya habis buat ke bengkel. ..hihihihihi…Tapi ya mo gimana lagi..harus sabar dan maklum, namanya juga mobil tua.
Ya meski tua , tapi kami (saya dan keluarga) menyayanginya… meski banyak teman-teman saya, dan bahkan pemilik bengkel yang gatel pengen melengserkan itu mobil, agar diremajakan dengan yang lebih baru. Tapi saya ga punya duit buat beli yang baru sudah sayang sama dia…dan keluarga saya juga bilang, jangan diganti..alasannya, ya sudah pas saja sama bentuk tubuh kami-kami yang keturunan bule ini, hingga kaki bisa diselonjorkan kemana-mana itu. Lagian sayang, dapatnya susah…mobil tua yang mesinnya masih oke diajak ngetrek ke gunung-gunung …hehehehe.
Si merah memang mobil kesayangan saya… meski ga keren buat nampang, tapi manfaatnya besar… tiap hari nganterin saya ke kantor, sambil bikin usaha angkutan kecil-kecilan ngangkutin temen-temen yang lain, dengan dikutip biaya tentunya. Kenapa saya segitu pelitnya, temen nebeng aja dikutip biaya? Karena saya pikir pengutipan biaya ini adalah win-win solution, di saya… ga jadi buntung dan bangkrut secara keuangan (gimana sih, namanya kalo tiap hari dimuati penuh pastinya biaya perawatan akan membengkak kan?), dan di teman-teman saya … tentunya ga bikin sungkan nebeng2 tiap hari..hehehe. Ya kalo ada yang bilang saya cari untung, sebenarnya sih ngga untung, soalnya uang yang terkumpul abis buat beli bensin serta buat nambahin biaya perawatan dan perbaikan ..satu-satunya keuntungan yang saya peroleh, ya paling saya bisa berangkat ke kantor tanpa ongkos..hehehe.
Tapi paling ngga, dengan adanya si merah ini , saya bisa melakukan sesuatu buat menyelamatkan dunia (berasa jadi wonder woman)… kebayang kan kalo ga ada si merah, teman-teman saya bakal bawa kendaraan sendiri-sendiri yang lebih nyaman ketimbang naik angkutan umum. Dan bayangkan saja, betapa polusi udara akan bertambah pekat karenanya. Nah itulah… kenapa saya menyayangi si merah, meski dia sering bikin repot…. Tapi sebenarnya, dari kerepotan-kerepotan itu saya malah jadi banyak belajar tentang dunia perbengkelan ..hayah.. coba kalo saya punya-nya mobil baru yang ga pernah rewel, mungkin saya sampe sekarang ga ngerti yang namanya aki mobil itu bentuknya seperti apa…ga ngerti juga kalo didunia ini ada benda yang bernama timing-belt dan delco…hahahaha. Hidup Merah!!!
-
Recent
- ijinkan saya menulis dengan pena saya sendiri
- kalo situ, lebih suka dinego atau ngga?
- STP PPh Pasal 21 Tahunan, almarhum sebelum waktunya?
- jokjit…jok pijit
- selembar kertas kosong tanpa pena
- Hi..i’m Back
- Merah Hijau Kuning Rekanku
- Remunerasi bikin polusi?
- Sunset Policy = kalo tidak sunset dilaporkan polisi
- Horeee….File-nya nongol lagi
- Selamat Jalan..Guruku.
- sunpol vs skp
-
Links
-
Archives
- December 2009 (3)
- November 2009 (3)
- December 2008 (12)
- November 2008 (4)
- October 2008 (18)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS