Copas Birthday whises

Posted: February 15, 2016 in selintas pikir

Ini tentang ucapan selamat tahun pada teman …, yang acap bikin saya jenuh dan sedikit mual saat melihatnya karena berderet deret memenuhi wall grup aplikasi pesan instan dan semua isinya sama alias copy paste dari pesan yang paling mula.
Terus terang jiwa keartisan saya terusik…halah.. dari sekian banyak manusia yang tergabung dalam grup kok ya ngga ada yg sedikit kreatip bikin ucapan yg agak agak idih bagaimana begitu. Ini sebenarnya ga kreatip apa males?
Entah..bagi saya kok ucapan copas2 itu seperti kurang dalam hal ketulusannya. Kaya cuma biar keliatan peduli, yg penting ucapin selamat. Barangkali kalo ditanya atau disuruh ngulangin kalimat yg dicopas buat ucapan itu seperti apa? sudah ga ingat lagi😀
Entah , saya tidak dapat menduga apa yang dirasa oleh teman yang menerima ucapan selamat berderet2 yang isinya sama semua itu. Kalau saya pribadi…bosan, walau sedikit senang karena ada yg peduli. Namun rasanya saya akan lebih2 bahagia, jika teman yg peduli dengan saya- meskipun seandainya hanya sedikit, namun mendoakan saya dengan tulus dari hati.
Tak perlu dengan rangkaian kata-kata yang indah..karena saya yakin tak semua orang pandai merangkai kata-kata. Kalimat sederhanapun akan menyentuh hati jika datangnya dari hati.
Bahkan mungkin tak perlu dengan ucapan untuk mengungkapkan bahwa kita menyayangi, cukup dengan doa dalam hati yang hanya didengar Tuhan, tanpa harus dia mengerti bahwa kita peduli.

So happy birthday my dear friends..
I pray for your happines
As you give to everyone who knows you

It’s been almost a year,
sometimes i can’t believe that i still survived without going crazy
Cause everyday i’m missing you …more and more

Hujan ini, sendiri

Posted: October 27, 2014 in larik kata

Hujan di luar sana, dibalik kaca jendela
Menguar aroma tanah basah,
Sesaat hilang bau pengap alas lantai yang tak pernah dicuci,
Meski kemaren kemarau tak sudah sudah.
Sesaat itu pula rintik menjelma rintih,
Sedih yang begitu puitis
Lalu kata, seketika ingin mengalun sajak
Namun rindu yang bangsat, membuatnya tergugu di ujung kalimat…

Hujan kali ini,
Rasanya sedemikian sendiri.

Solo, 27 okt 2014

Kadang kita merasa hidup yang kita jalani tak seperti apa yang kita angankan
Teman yang pengertian, keluarga yang peduli, kekasih yang sangat dicintai, karir yang melesat seperti roket
Atau hal apapun yang menjadi keinginan kita, yang nampaknya jauh dari genggaman.

Kadang kita mencari apa yang salah pada sebuah sebab, yang berakibat pada tidak tercapainya keinginan kita.
Kondisi dan waktu yang tidak bersahabat, atau takdir yang telah menyuratkan demikian.
Pada akhirnya tidak menemukan jawaban, lantas berujung pada sebuah candu meratapi diri sendiri.

Karena meski dari berbagai sudut kita memandang, tetap saja berpusat pada penderitaan diri sendiri.
Penderitaan yang entah, bahkan kitapun tak pernah tahu dari mana datangnya.
Hanya saja semua tampak muram karenanya.

Ketika manusia lain memiliki apa yang tidak kita miliki, lantas apakah hidup ini tak lagi indah?
Pernahkah kita bertanya, apakah manusia lain mencari apa yang kini mereka miliki?
Kadang, mereka pun tak menginginkan apa yang mereka miliki.
Maka menjadi sebuah kewajaran dalam hidup ini,
Jika kita mencari apa yang tidak kita dapat, dan mendapati apa yang tidak kita cari.

Karena kita selalu bertanya dimana letak kesalahan, tanpa menyadari bahwa terkadang carikan-carikan hidup adalah sebuah keadaan yang terberi. Read the rest of this entry »

Di seberang jarak

Posted: March 28, 2014 in larik kata

Di seberang jarak,
Merajut rautmu yang tak henti membayang
Menyusuri andai, tersesatku menuju hilang
Ke seberang, tak pernah dapatku beranjak.

Lalu diam,
Dalam hening malam.

Namun usik bayang tak jua menghilang

Dalam kendara malam

Posted: March 26, 2014 in larik kata

Dalam kendara malam,
jejalan menjelma belantara matamu.
Perlahan menyusuri hangatnya… menyesapi pedihnya
Lalu ia menjelma titian kabut,
menjelma bulir air yang rintih merintik memburamkan kaca jendela
sesaknya hirup dalam tipisnya udara.

Lalu jejalan kembali menjelma jejalan,
yang siur dalam cahaya-cahaya kendara

Seketika aku ingin bergegas pulang
Berharap menemukan gerimismu membasahi beranda rumahku

Bungkus nasi yang tertukar

Posted: March 22, 2014 in tentang diri

Sore ini, saya sama keluarga jalan ke jogja demi meredakan kegalauan si kutil pengen liat kids n toys expo di JEC.
Sepulang dari acara liat-liat mainan itu, seperti biasa mampir cari makan di tempat favorit kami semua yang adalah…jreng..jreng..nasi uduk palagan, warung makan tkp tertukarnya rendang dan tahu yg saya ceritakan pada postingan sebelumnya🙂. Postingan yg manakah itu? Tolong dicari sendiri soalnya saya tulis ini pake hape..jadi agak2 susah buat bikin link🙂.
Singkat cerita, seusai kami makan…saya menuju meja kasir untuk membayar. Saya iseng santai aja bilang ke mas-nya (yg sepertinya pemilik itu warung) :  “mas,kemaren kapan itu saya bungkus nasi di sini ketuker sama punya orang lho”
Saya sih ga ada niat apa apa sebenarnya..ga mau protes juga…pengen sok akrab aja :D…ga ding… sebenernya saya bilang cuma supaya kejadian itu ga terulang lagi sama orang lain ke depannya.
Dan tanggapan si mas bikin saya terkejut, dia bilang “nah begini yg saya suka…mbak kasih tau saya kl ada yg kurang”
Terus si mas nanya gimana ceritanya..saya pesan apa, dapatnya bungkusan apa…..eeeh…tau tau dia kasih duit ganti rugi sama saya, sambil minta maaf krn waktu itu kurang hati-hati. Saya kaget,campur senang dong😉. Padahal saya udah bilang kejadian itu udah sebulan lalu, tapi dia bilang ga papa,terus keukeuh balikin duit ke saya.
Padahal niat saya bilang itu ga pengen digantirugiin.cuma supaya mereka lebih hati-hati aja. Beneran salut deh sama profesionalitas si mas nya.

Nah, waktu di mobil saya cerita sama keluarga saya. Semua jg jd bilang “si mas baik ya”😀. Hari gini, jarang kan orang bisa terima komplain dan kritik dengan lapang dada. Lha ini sudah mau dikomplain, masih mau ganti rugi…pedagang yang jujur.

Tapi itu juga mungkin buah dari keterusterangan saya buat ngomong sama si mas kali ya…hihihi. Nampaknya diriku sudah ketularan sifatnya si mami…suka komplain terus terang sama bakul-bakul kl ada yg ga sreg di hati😀.

Btw, kadang-kadang kita kan suka ga enakan tuh kalo mau komplain or ngingetin orang. Misalnya yg sering kjadian …soal pesan air teh hangat di warung, terus dibawainnya es teh. Terus karena kita ga enak, ya udah diterima aja. Atau pesan apa dibikinnya apa yg ga sesuai pesanan, ya udah diterima aja, karena ga enak ati mau komplain…terus besoknya kapok ga mau kesitu lagi. Atau misalnya yang lain, yg bukan soal bakul deh….waktu abis makan, ngobrol-ngobrol, eeh…liat ada cabe nyelip di gigi teman, tapi kita ga enak mau bilang, terus di diemin aja, lha kan kasian dianya bakal jd perhatian insani sepanjang hari…hihihi.

Padahal ga ada salahnya kita terus terang , dan tidak selalu memaklumi ketidaksengajaan. Yang namanya orang ngga sengaja melakukan kesalahan ya mana tau kalo mereka salah, mestinya di kasih tau biar ke depannya ga bikin kesalahan yang sama lagi. Dari pada memendam rasa terus kitanya jadi ilfil permanen sama itu orang, mending terus terang, masalah selesai ga ada ganjalan di kemudian hari.

Jadi pesan moral apakah yang bisa dipetik hari ini?
Sekali-kali cobain nasi uduk palagan, terbukti makanannya enak dan masnya baik…hihihihik

Peringatan :
Jangan jadikan alasan bungkusan tertukar untuk modus cari uang ganti rugi…hihihihi