Satu Lagi Yang Hilang

Posted: July 24, 2022 in Uncategorized

Dahulu, kita pernah berharap untuk segera menjadi dewasa, menjadi manusia kuat seperti anggota klan para penjaga yang siap menyelamatkan dunia.

Nyatanya, dewasa adalah masa dimana kita harus siap menghadapi kehilangan demi kehilangan.

Jangankan menyelamatkan dunia, kita bahkan terlalu sibuk untuk menyelamatkan diri sendiri dari merapuhnya jiwa.

Kemarin, ada yang datang , orang-orang dari masa kecil kita. Bercerita bagaimana aku , kamu, dan mereka dulu.

Cerita bahagia, yang anehnya  semakin membuat hati berlubang-lubang saat dikenang. Semakin terasa kamu hilang.

Menjadi dewasa sungguh tidak mudah. Karena kita harus seringkali berpura-pura. Berpura-pura tegar, berpura-pura kuat. Meski setengah mati menahan rasa pedih yang mencekat.

Seandainya menghapus kesedihan masih  semudah dulu, tinggal lari sembunyi di pelukan Ibu.

(in memoriam, my lil brother 22 Juli 2022)

Kelak akan kuceritakan,

seperti apa rasanya menyambut hari dengan membaca pesan

“ada yang mati lagi pagi ini”

Seperti apa rasanya kunyah demi kunyah sarapan,

ditemani pedih serupa luka rajaman.

Nestapa yang menggenang, yang diam-diam melinang.

Kelak akan kuceritakan sebuah masa,

dimana pelukan serupa angan yang meronta-ronta dalam pasungan.

Ketika dunia sebatas obrolan pada dinding-dinding aplikasi perpesanan.

Dan rasa belasungkawa hanya sekedar ucapan-ucapan yang seragam bunyinya.

Hasil salin tempel yang sempurna.

Bertumpuk-tumpuk, bertindihan dengan gambar-gambar canda.

Duka, tawa bersilih dalam ruang dan saat yang sama.

Kelak akan kuceritakan,

betapa waktu telah membuat manusia sedemikian mengakrabi kehilangan.

  • 12 Juli 2021

Tired

Posted: July 9, 2021 in Uncategorized
I’m tired. Tired of always having to be the strong one, of always to do the right thing.

Tanggal 27 Juni 2021 adalah hari terakhir saya menyelesaikan jatah isoman, setelah sejak tanggal 13 Juni lalu melakukan test swab PCR dan dinyatakan positif.

Saya tidak pernah mengira akhirnya dapat giliran untuk ngunduh arisan covid. Saya ngga ngerti juga kapan ketempelan lelembut…makhluk halus bernama covid 19 ini. Saya merasa sudah menjaga prokes jika sedang keluar rumah. Pakai masker, cuci tangan, handsan, mandi, jaga jarak.

Lalu saya teringat, saat di kantor saya suka lepas masker jika sedang berada di kubik. Alasannya karena kuping saya pegel, kalau sudah pegel merembet jadi sakit gigi. Mungkin itu sebabnya. Pelajaran buat saya, jangan pernah lepas masker!

Read the rest of this entry »

Tentang Rasa Sayang

Posted: January 20, 2021 in Uncategorized

Sekitar dua tahun lalu, saat saya dipindahkan ke kantor baru, kantor saya saat ini. Pada suatu sesi acara perkenalan pegawai baru, saya menyampaikan harapan saya bahwa semoga saya dapat segera menyayangi kantor ini.

Bisa jadi teman-teman saya yang mendengar akan keheranan dengan harapan saya itu, di saat yang lainnya berharap agar dapat diterima kehadirannya, agar dapat segera beradaptasi maupun berharap mendapat bimbingan dari penghuni lama, saya hanya berharap agar bisa segera menyayangi kantor saya ini.

Alasan saya sederhana, karena dengan menyayangi semua akan menjadi mudah dilakukan. Saat kita menyayangi atau mencintai sesuatu, apapun akan kita lakukan dengan ringan hati bukan? Tanpa beban, dan senang hati melakukan yang terbaik meskipun tanpa diminta.

Akhir tahun lalu, saat kantor sedang kemrungsung-kemrungsungnya dengan pencapaian target, saya acap mendengar kalimat ” diharap kepeduliannya kepada kantor”.

Peduli, seandainya setiap pegawai memiliki rasa sayang dengan kantor , tanpa disuruh-suruh pun mereka akan peduli. Pertanyaannya, apakah setiap tindakan dan kebijakan yang diambil sudah menciptakan kondisi “sebuah kantor yang layak disayangi”? Dipedulikan?. Terlebih di masa pandemi seperti ini.

Saya belajar dari kegemaran saya mendaki gunung, kala muda dulu. Dalam kondisi ekstrim , setiap orang akan memunculkan sifat aslinya. Yang egois akan menyelamatkan dirinya sendiri, yang pelit tidak mau berbagi, yang manja akan merepotkan. Menjengkelkan sekali waktu. Namun pada akhirnya kami menyadari bahwa setiap individu yang bergabung dalam kelompok pendakian ini sudah seperti keluarga sendiri. Mestinya saling menyayangi, menahan diri, dan saling peduli. Maka aral yang melintang mampu kami lalui dan menyisakan kisah yg selalu indah untuk dikenang.

Tidak beda dengan kondisi “menghadapi pandemi” ini. Akan nampak sifat asli masing-masing. Mana yang hanya minta dipedulikan, namun tidak peduli dengan yang lain. Mana pengambil kebijakan yang bersikap selayaknya payung yang menaungi di kala hujan, mana yang inginnya didukung tinggi-tinggi supaya tidak basah kebanjiran.

Pandemi sudah berjalan hampir setahun. Kebijakan yang diambil berganti berkali-kali. Membawa harap, membawa cemas. Apapun itu, saya berdoa semoga setiap kebijakan yang diambil membawa saya semakin dekat dengan harapan “dapat menyayangi kantor ini” hingga sepenuh hati.