Tentang Rasa Sayang

Posted: January 20, 2021 in Uncategorized

Sekitar dua tahun lalu, saat saya dipindahkan ke kantor baru, kantor saya saat ini. Pada suatu sesi acara perkenalan pegawai baru, saya menyampaikan harapan saya bahwa semoga saya dapat segera menyayangi kantor ini.

Bisa jadi teman-teman saya yang mendengar akan keheranan dengan harapan saya itu, di saat yang lainnya berharap agar dapat diterima kehadirannya, agar dapat segera beradaptasi maupun berharap mendapat bimbingan dari penghuni lama, saya hanya berharap agar bisa segera menyayangi kantor saya ini.

Alasan saya sederhana, karena dengan menyayangi semua akan menjadi mudah dilakukan. Saat kita menyayangi atau mencintai sesuatu, apapun akan kita lakukan dengan ringan hati bukan? Tanpa beban, dan senang hati melakukan yang terbaik meskipun tanpa diminta.

Akhir tahun lalu, saat kantor sedang kemrungsung-kemrungsungnya dengan pencapaian target, saya acap mendengar kalimat ” diharap kepeduliannya kepada kantor”.

Peduli, seandainya setiap pegawai memiliki rasa sayang dengan kantor , tanpa disuruh-suruh pun mereka akan peduli. Pertanyaannya, apakah setiap tindakan dan kebijakan yang diambil sudah menciptakan kondisi “sebuah kantor yang layak disayangi”? Dipedulikan?. Terlebih di masa pandemi seperti ini.

Saya belajar dari kegemaran saya mendaki gunung, kala muda dulu. Dalam kondisi ekstrim , setiap orang akan memunculkan sifat aslinya. Yang egois akan menyelamatkan dirinya sendiri, yang pelit tidak mau berbagi, yang manja akan merepotkan. Menjengkelkan sekali waktu. Namun pada akhirnya kami menyadari bahwa setiap individu yang bergabung dalam kelompok pendakian ini sudah seperti keluarga sendiri. Mestinya saling menyayangi, menahan diri, dan saling peduli. Maka aral yang melintang mampu kami lalui dan menyisakan kisah yg selalu indah untuk dikenang.

Tidak beda dengan kondisi “menghadapi pandemi” ini. Akan nampak sifat asli masing-masing. Mana yang hanya minta dipedulikan, namun tidak peduli dengan yang lain. Mana pengambil kebijakan yang bersikap selayaknya payung yang menaungi di kala hujan, mana yang inginnya didukung tinggi-tinggi supaya tidak basah kebanjiran.

Pandemi sudah berjalan hampir setahun. Kebijakan yang diambil berganti berkali-kali. Membawa harap, membawa cemas. Apapun itu, saya berdoa semoga setiap kebijakan yang diambil membawa saya semakin dekat dengan harapan “dapat menyayangi kantor ini” hingga sepenuh hati.

Sepertinya untuk dapat memahami isi pembicaraan yg menimbulkan geger istilah “mudik” dan “pulang kampung” itu memang harus jadi pegawai yg nasibnya kudu dimutasi jauh-jauh ke luar kota dulu, sehingga dapat memahami istilah “homebase” dan “kota asal/kelahiran”. Seperti misalnya pertanyaan “asalmu ngendi?” “Wonogiri” , dengan “keluarga stay dimana?” “Kulonprogo”.

Dari sini mestinya kita memperoleh pelajaran yang bisa dipetik bahwa “belajar bahasa Indonesia” itu penting. Karena salah pakai istilah bisa jd runyam urusannya di Negeri ini. (Ah..seandainya saya seorang ahli bahasa, pasti sudah kaya raya di era strategi perang politik macam sekarang inišŸ™„).

Jadi menurut kamu lebih penting mana? Pemimpin yang pandai berbahasa Inggris, atau pemimpin yang pintar berbahasa Indonesia dengan baik dan benar? šŸ˜€

Urusan Covid ini memang idealnya diselesaikan tanpa perasaan. Idealnya orang yg sekarang berada dimana, ya tdk boleh kmana-mana. Walaupun misalnya mereka itu adalah para lajuwan dan lajuwati ,PJKA er, Pulang Jumat Kembali Ahad.

Sudah terlanjur berangkat ke kota tempat dia kerja dengan harapan seminggu ke depan bisa ketemu keluarga, ya ga usah dibaperin, harus tega dimusnahkan saja harapannya. Tunggu nanti habis lebaran baru boleh pulang ketemu anak isteri.

Teorinya sederhana, apalagi kalau yg ngomong itu tugasnya ga pernah jauh-jauh dr keluarga.

Tapi kondisi orang itu berbeda-beda. Siapa tahu keluarga yg ditinggalkan itu ada yg sakit harus dipantau setiap seminggu sekali, atau barangkali yg ditinggalkan di homebase cuma anak-anak sama pembantu karena pasangan hidupnya juga bekerja di luar kota yang berlainan, atau justru orang itu sendiri yg memang harus pulang seminggu sekali untuk alasan pengobatan krn tempatnya bertugas tdk ada layanan kesehatan yg memadai?

Itu asumsi kalau orangnya kerja kantoran. Bagaimana kalau buruh, atau pekerja-pekerja harian lainnya?pedagang-pedagang kecil? Kena PHK ga ada kerjaan ga bisa makan, ga boleh pulang ke kampung juga? Ya kan harusnya pemerintah kasih makan sama mereka. Idealnya.

Tapi kenyataannya ada warga kelaparan sampai tinggal tulang berbalut kulit aja Pak RT nya ngga tahu, tetangganya ga peduli. Sebaliknya ada yang katanya mampu malah paling “semrinthil” dikasih bantuan. Balik-baliknya ya ke masalah database yang ambyar. Itu akibatnya kl disensus jawabnya bohong, yg gengsi : miskin bilangnya mampu. Yang oportunis: kaya bilangnya miskin.

Lha terus harusnya gimana?Ā  Lha mbuh! :D. Kalau saya, ya tahu diri aja, menjaga diri sendiri dan saling peduli. Kalau harus pulang kampung..eh..pulang homebase ya sadar diri isolasi mandiri. Kalau tau tetangganya dari luar kota, ya ga usah deket-deket kalau perlu laporkan ke aparat desa kalau dianya ga lapor duluan.

Beruntung tempat kerja saya itu paham dengan yang “dikarepkan” dari rumusan penanganan Covid19. Jauh-jauh hari saya sudah disuruh pulang kampung, kerja dari rumah saja, ga usah balik-balik ke kantor. Jadi alhamdulillah saya tidak menjadi bagian dari mereka yg “mbanyaki” urusan mau “mudik” atau “pulang kampung”.

Saya dan Kebaya

Posted: April 21, 2020 in Uncategorized

Menjelang Hari Kartini bagi saya adalah hari yang menggelisahkan. Bagaimana tidak, jika yang terbayang: jangan-janganĀ  besok diharuskan berkebaya. Semoga jangan!.

Pengalaman saya dengan kain kebaya itu lebih banyak ngenesnya daripada sukanya.

Waktu kelas satu SD, kenangan saya tentang kebaya ini masih diliputi perasaan suka cita. Bagaimana tidak? Wong saya dapat hadiah karena menang lomba kartinian dalam hal berkebaya (mungkin kl jaman sekarang semacam kontes fashion show) melawan teman-teman perempuan satu kelas.

Kelas dua, saya ikut lomba lagi…berjalan muterin catwalk yang serupa lapangan upacara itu, saya menahan2 hasrat menggelegak pengen “nyincing” kain setinggi2nya, sambil mbatin “kok ra tekan-tekan”. Mungkin itu yg menyebabkan seorang ibu yang nonton di pinggiran berkomentar : “lho..lho..kok mlakune njenthit-njenthit”. Dan gara-gara Ibu itu saya jadi ngga menang. Lhoooo???@#*& šŸ˜€

Setelah itu saya ga pernah mau lagi pakai kebaya. Hingga saatnya wisuda…

Menjelang wisuda, belum pakai kebaya saja saya sudah dibuat letih lesu. Muterin kota berhari-hari buat nyari sewaan seperangkat kebaya yg ukurannya tepat untuk manusia berukuran 173 x 50 . Akhirnya dpt kebaya di salon A, kain di salon B, sendalnya di salon C. Itu pun ga ada yg tepat sempurna.

Kebaya kurang panjang lengannya, kain yang kl dipakai menyisakan space seuprit diatas stagen dan sendal yg kekecilan tak muat menampung tumit.

Tibalah saat H-1, dimana salon2 dekat kos-an sdh penuh antriannya, alhamdulillahnya..ada Ibu teman satu kos saya, yg memang pekerjaannya merias pengantin, bersedia bantuin dandanin kami. Plus pinjamin konde2 dan stagen2 beraneka warna dan ukuran.

Namun karena satu kosan itu yg harus didandanin ada banyak, jadilah arena perkondean dibuka mulai jam 8 malam sebelum hari H. Dan sialnya, saya dapat giliran pertama untuk dikonde, mungkin karena kepalanya yang paling lebar.

BisaĀ  dibayangkan kanĀ  Sodara-sodara ,bagaimana keadaan saya yang telah berkonde sejak sekitar jam 9 malam, hingga keesokan harinya?

Itulah malam dimana kegelisahan merajalela karena pikiran dipenuhi pertanyaan bagaimana caranya saya harus menyeting posisi tidur agar bisa nyenyak dan nyaman. IbaratĀ  syair lagu: duduk tak enak, nunggingpun tiada nyenyak.

Lalu tibalah hari H, mengikuti prosesiĀ  wisuda di JCC, hati dan pikiran saya hanya tertuju pada kerinduan akan bantal. Mata pengennya merem saja, berjalan seperti melayang. Setengah mati saya menahan kantuk di tengah acara wisuda.

Lantas nama saya dipanggil, naik ke atas panggung, langsung berjalan lempeng saja mengambil tabung warna biru itu, bapak2 (bapak ini siapa ya? Wis mbuh lali)Ā  yg berdiri manis dilewatin saja tidak pakai salaman.

Serta merta diingatkan oleh Bapak yg menyerahkan tabung agar bersalaman sama Bapak yang saya lewati itu dulu, dan saya kembaliĀ  atret mundur ke belakang. Difoto cekrek2, hasilnya: foto salaman sambil ketawa malu-malu keparat. Kata teman-teman saya, kok foto kamu bagus ekspresinya.

Sudah selesai di panggung berjalan kembali menuju tempat duduk, kok mendadak merasa aneh seperti ada yg klawer-klawer di kaki..oh rupanya kainnya sudah morat marit dipakai jalan dari tempat duduk ke panggung pp.

Satu tahun kemudian…saya sudah penempatan, tinggal satu kos sama teman satu angkatan. Kami ngobrol ketawa-ketawa ingat jaman wisuda. Teman saya berkata sambil tertawa : “eh..ingat ngga, dulu ada yg salah waktu di panggung, malah jalan aja bapaknya ngga disalamin”. “Kuwi aku!”.

Nah, gara-gara penempatan di kota itu. Lagi-lagi saya dihadapkan pada sebuah keterpaksaan untuk berurusan kembali dengan kebaya. Singkat cerita, teman saya, senior yang ngajarin saya banyak hal tentang pekerjaan, kami pun suka naik naik gunung bareng, akhirnya menemukan orang yang sudi dilamar dan hendak menikahlah mereka.

Terus kami , kaum wanita muda kinyis-kinyis yang hanya mengenal ceria, didapuk jadi panitia yang harus berkebaya. Saya idih-idih ogah-ogah. Untuk menyelamatkan diri, saya pergi ke salon, memangkas rambut pendek-pendek supaya tidak bisa ditempelin konde.

Tapi teman saya itu ngeyel, terjadi perdebatan alot di antara kami. Alasan rambut brondol ternyata tdk bisa banyak menyelamatkan saya, krn ternyata tehnik di dunia perkondean itu, tanpa sepengetahuan saya telah maju teramat pesat. Alasan kulit sensitif kalau kena make up, ga bikin juga dia iba. Teman macam apa!!!

Selanjutnya gantian dia yg kasih alasan, “katanya kamu pernah suka sama aku, bikin aku senang dong lihat kamu pakai kebaya”. B*ngs*t, siapa ini penghianatnya pakai kasih2 tau dia. “Sekarang sudah ngga!” (karena kamu nyuruh aku pakai kebaya). Pokoknya saya terus ngeyel, sampai teman saya itu bilang “aku ga jadi nikah kl kamu ga mau jadi penerima tamunya”.Ā  Lalu hening, saya nyerah.Ā 

Lalu tibalah hari H, saya jd penerima tamu berkebaya. Yang namanya penerima tamu kan ya, harus duduk berdiri naik turun. Sampai dengan saat saya dihinggapi perasaan tidak nyaman. Saya melirik ke bawah, dan seperti sudah diduga, sisa kain seuprit itu meloloskan diri dari stagennya.

Langsung saya seret salah satu temanĀ  saya yang berjenis kelamin wanita, ke toilet, buat benerin itu kain. Dia terherman-herman, kok bisa-bisanya kain itu bentuknya jadi awut-awutan di tangan eh kaki saya.

Demikianlah kejadian hari itu, selain menambah kenangan pahit tentang kebaya juga menyisakan jerawat meradang segede kelereng di pipi saya.

Dan kisah itu belum semuanya, di kemudian hari pun, dimana ada peristiwa saya berkebaya, di situ akan selalu diwarnai oleh kain jarit yang melorot dari stagennya.

Tersesat Kunang-kunang

Posted: December 1, 2019 in larik kata
Tags:

Suatu waktu, pernah kutemukan kunang-kunang dalam tatapmu.

Kerlip cahaya yang menarikku jauh ke dalam belantara matamu.

Seperti ngengat yang selalu tertarik pada terang, aku terpikat.

 

Aku sangka itu isyarat,

seperti suar yang memandu perahu agar mendekat,

lalu merapat.

 

Namun kau kunang…

Dalam diam kubaca isyaratmu yang remang,

cahaya yang kerlip sesaat, lalu menghilang.

berkerlip sesaat…lalu menghilang.

 

Hilang… tak lagi menyisakan terang.

 

Dalam belantara matamu aku tersesat,

namun tak ingin kucari jalan kembali pulang.

aku masih ingin disini, menunggu….

menyesapi sisa rasa bahagia yang meski semakin terasa ngilu.

 

— 02 Februari 2018 —

Menjadi Telepon Genggammu

Posted: November 30, 2019 in larik kata
Tags:

Seharian ini diam-diam aku mencarimu, dari sudut mataku

Kutemui kau selalu, sedang sibuk dengan telepon genggammu.

Seharian ini kembali aku, menjelma menjadi manusia yang paling konyol sedunia

Cemburu buta,

Pada telepon ngenggammu.

 

Sering di malam sebelum tidurku,

Aku membayangkan seperti apa rasanya menjadi telepon itu.

Berada di sampingmu, menemani lelap tidur malammu.

Menjadi yang pertama kau cari pada pagi hari bangun tidurmu.

 

Yang kemana kau pergi, aku turut

Yang menggelisahimu di selang waktu yang sedemikian runtut.

 

Aku ingin menjadi teleponmu…

Yang sekali waktu hangat di genggammu.

Yang sekali waktu berada lekat di saku bajumu,

dekat dengan jantungmu.

Hingga aku dapat memahami,

sesuatu apa yang membuat degupnya mengirama puisi.

 

 

— 31 Januari 2018 —