Kelak akan kuceritakan,

seperti apa rasanya menyambut hari dengan membaca pesan

“ada yang mati lagi pagi ini”

Seperti apa rasanya kunyah demi kunyah sarapan,

ditemani pedih serupa luka rajaman.

Nestapa yang menggenang, yang diam-diam melinang.

Kelak akan kuceritakan sebuah masa,

dimana pelukan serupa angan yang meronta-ronta dalam pasungan.

Ketika dunia sebatas obrolan pada dinding-dinding aplikasi perpesanan.

Dan rasa belasungkawa hanya sekedar ucapan-ucapan yang seragam bunyinya.

Hasil salin tempel yang sempurna.

Bertumpuk-tumpuk, bertindihan dengan gambar-gambar canda.

Duka, tawa bersilih dalam ruang dan saat yang sama.

Kelak akan kuceritakan,

betapa waktu telah membuat manusia sedemikian mengakrabi kehilangan.

  • 12 Juli 2021

Tired

Posted: July 9, 2021 in Uncategorized
I’m tired. Tired of always having to be the strong one, of always to do the right thing.

Tanggal 27 Juni 2021 adalah hari terakhir saya menyelesaikan jatah isoman, setelah sejak tanggal 13 Juni lalu melakukan test swab PCR dan dinyatakan positif.

Saya tidak pernah mengira akhirnya dapat giliran untuk ngunduh arisan covid. Saya ngga ngerti juga kapan ketempelan lelembut…makhluk halus bernama covid 19 ini. Saya merasa sudah menjaga prokes jika sedang keluar rumah. Pakai masker, cuci tangan, handsan, mandi, jaga jarak.

Lalu saya teringat, saat di kantor saya suka lepas masker jika sedang berada di kubik. Alasannya karena kuping saya pegel, kalau sudah pegel merembet jadi sakit gigi. Mungkin itu sebabnya. Pelajaran buat saya, jangan pernah lepas masker!

Read the rest of this entry »

Tentang Rasa Sayang

Posted: January 20, 2021 in Uncategorized

Sekitar dua tahun lalu, saat saya dipindahkan ke kantor baru, kantor saya saat ini. Pada suatu sesi acara perkenalan pegawai baru, saya menyampaikan harapan saya bahwa semoga saya dapat segera menyayangi kantor ini.

Bisa jadi teman-teman saya yang mendengar akan keheranan dengan harapan saya itu, di saat yang lainnya berharap agar dapat diterima kehadirannya, agar dapat segera beradaptasi maupun berharap mendapat bimbingan dari penghuni lama, saya hanya berharap agar bisa segera menyayangi kantor saya ini.

Alasan saya sederhana, karena dengan menyayangi semua akan menjadi mudah dilakukan. Saat kita menyayangi atau mencintai sesuatu, apapun akan kita lakukan dengan ringan hati bukan? Tanpa beban, dan senang hati melakukan yang terbaik meskipun tanpa diminta.

Akhir tahun lalu, saat kantor sedang kemrungsung-kemrungsungnya dengan pencapaian target, saya acap mendengar kalimat ” diharap kepeduliannya kepada kantor”.

Peduli, seandainya setiap pegawai memiliki rasa sayang dengan kantor , tanpa disuruh-suruh pun mereka akan peduli. Pertanyaannya, apakah setiap tindakan dan kebijakan yang diambil sudah menciptakan kondisi “sebuah kantor yang layak disayangi”? Dipedulikan?. Terlebih di masa pandemi seperti ini.

Saya belajar dari kegemaran saya mendaki gunung, kala muda dulu. Dalam kondisi ekstrim , setiap orang akan memunculkan sifat aslinya. Yang egois akan menyelamatkan dirinya sendiri, yang pelit tidak mau berbagi, yang manja akan merepotkan. Menjengkelkan sekali waktu. Namun pada akhirnya kami menyadari bahwa setiap individu yang bergabung dalam kelompok pendakian ini sudah seperti keluarga sendiri. Mestinya saling menyayangi, menahan diri, dan saling peduli. Maka aral yang melintang mampu kami lalui dan menyisakan kisah yg selalu indah untuk dikenang.

Tidak beda dengan kondisi “menghadapi pandemi” ini. Akan nampak sifat asli masing-masing. Mana yang hanya minta dipedulikan, namun tidak peduli dengan yang lain. Mana pengambil kebijakan yang bersikap selayaknya payung yang menaungi di kala hujan, mana yang inginnya didukung tinggi-tinggi supaya tidak basah kebanjiran.

Pandemi sudah berjalan hampir setahun. Kebijakan yang diambil berganti berkali-kali. Membawa harap, membawa cemas. Apapun itu, saya berdoa semoga setiap kebijakan yang diambil membawa saya semakin dekat dengan harapan “dapat menyayangi kantor ini” hingga sepenuh hati.

Sepertinya untuk dapat memahami isi pembicaraan yg menimbulkan geger istilah “mudik” dan “pulang kampung” itu memang harus jadi pegawai yg nasibnya kudu dimutasi jauh-jauh ke luar kota dulu, sehingga dapat memahami istilah “homebase” dan “kota asal/kelahiran”. Seperti misalnya pertanyaan “asalmu ngendi?” “Wonogiri” , dengan “keluarga stay dimana?” “Kulonprogo”.

Dari sini mestinya kita memperoleh pelajaran yang bisa dipetik bahwa “belajar bahasa Indonesia” itu penting. Karena salah pakai istilah bisa jd runyam urusannya di Negeri ini. (Ah..seandainya saya seorang ahli bahasa, pasti sudah kaya raya di era strategi perang politik macam sekarang ini๐Ÿ™„).

Jadi menurut kamu lebih penting mana? Pemimpin yang pandai berbahasa Inggris, atau pemimpin yang pintar berbahasa Indonesia dengan baik dan benar? ๐Ÿ˜€

Urusan Covid ini memang idealnya diselesaikan tanpa perasaan. Idealnya orang yg sekarang berada dimana, ya tdk boleh kmana-mana. Walaupun misalnya mereka itu adalah para lajuwan dan lajuwati ,PJKA er, Pulang Jumat Kembali Ahad.

Sudah terlanjur berangkat ke kota tempat dia kerja dengan harapan seminggu ke depan bisa ketemu keluarga, ya ga usah dibaperin, harus tega dimusnahkan saja harapannya. Tunggu nanti habis lebaran baru boleh pulang ketemu anak isteri.

Teorinya sederhana, apalagi kalau yg ngomong itu tugasnya ga pernah jauh-jauh dr keluarga.

Tapi kondisi orang itu berbeda-beda. Siapa tahu keluarga yg ditinggalkan itu ada yg sakit harus dipantau setiap seminggu sekali, atau barangkali yg ditinggalkan di homebase cuma anak-anak sama pembantu karena pasangan hidupnya juga bekerja di luar kota yang berlainan, atau justru orang itu sendiri yg memang harus pulang seminggu sekali untuk alasan pengobatan krn tempatnya bertugas tdk ada layanan kesehatan yg memadai?

Itu asumsi kalau orangnya kerja kantoran. Bagaimana kalau buruh, atau pekerja-pekerja harian lainnya?pedagang-pedagang kecil? Kena PHK ga ada kerjaan ga bisa makan, ga boleh pulang ke kampung juga? Ya kan harusnya pemerintah kasih makan sama mereka. Idealnya.

Tapi kenyataannya ada warga kelaparan sampai tinggal tulang berbalut kulit aja Pak RT nya ngga tahu, tetangganya ga peduli. Sebaliknya ada yang katanya mampu malah paling “semrinthil” dikasih bantuan. Balik-baliknya ya ke masalah database yang ambyar. Itu akibatnya kl disensus jawabnya bohong, yg gengsi : miskin bilangnya mampu. Yang oportunis: kaya bilangnya miskin.

Lha terus harusnya gimana?ย  Lha mbuh! :D. Kalau saya, ya tahu diri aja, menjaga diri sendiri dan saling peduli. Kalau harus pulang kampung..eh..pulang homebase ya sadar diri isolasi mandiri. Kalau tau tetangganya dari luar kota, ya ga usah deket-deket kalau perlu laporkan ke aparat desa kalau dianya ga lapor duluan.

Beruntung tempat kerja saya itu paham dengan yang “dikarepkan” dari rumusan penanganan Covid19. Jauh-jauh hari saya sudah disuruh pulang kampung, kerja dari rumah saja, ga usah balik-balik ke kantor. Jadi alhamdulillah saya tidak menjadi bagian dari mereka yg “mbanyaki” urusan mau “mudik” atau “pulang kampung”.